Proyek Fiktif KPK Tetapkan Dua tersangka Pegawai PT Wasita Karya

 

Jakarta. Ovumnews.com—Terakait Proyek Fiktif  KPK menggeledah kantor pusat PT Waskita Karya yang terletak di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur. Penggeledahan yang berlangsung dalam rentang waktu 6 Desember 2018 hingga 12 Desember 2018lalu , dilakukan untuk mencari bukti dugaan korupsi bermodus proyek fiktif di BUMN,dan KPK telah menetap dua tersangka. Senin (17/12/2018).

KPK menetapkan dua pejabat PT Waskita Karya (Persero), Tbk sebagai tersangka. Keduanya adalah Fathor Rachman selaku Kepala Divisi II PT Waskita Karya pada periode 2011-2013 dan Yuly Ariandi Siregar selaku Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya periode 2010-2014.

“FR dan YAS diduga telah melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, atau orang lain atau suatu korporasi terkait pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fiktif pada proyek-proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya (Persero), Tbk,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Fathor dan Yuly diduga menunjuk beberapa perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek konstruksi yang dikembangkan oleh perusahaan.

“Sebagian dari pekerjaan tersebut diduga telah dikerjakan oleh perusahaan lain, namun tetap dibuat seolah-olah akan dikerjakan oleh 4 perusahaan subkontraktor yang teridentifikasi sampai saat ini,” kata dia.

KPK menduga empat perusahaan subkontraktor itu tidak melakukan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak. “Atas subkontrak pekerjaan fiktif ini, PT Waskita Karya selanjutnya melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut,” kata Agus.

“Namun selanjutnya perusahaan-perusahaan sub kontraktor tersebut menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya kepada sejumlah pihak termasuk yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi FR dan YAS,” lanjutnya.

Dari perhitungan sementara bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), diduga terjadi kerugian negara sekitar Rp 186 miliar. Perhitungan ini merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya ke perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut.

KPK menduga 4 perusahaan subkontraktor tersebut mendapat pekerjaan fiktif dari sebagian paket pada proyek-proyek pembangunan jalan tol, jembatan, bandara, bendungan, dan normalisasi sungai. Keduanya disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

14 Proyek yang Diduga Ada Pekerjaan Fiktif Hasil Temuan

KPK menemukan dugaan pekerjaan fiktif pada sebagian paket dalam 14 proyek yang ikut dikembangkan oleh PT Waskita Karya (Persero), Tbk. Dugaan itu ditemukan ketika KPK menetapkan dua pegawai PT Waskita Karya sebagai tersangka.

Dari Dua Pegawai Waskita Karya, KPK Temukan Dugaan 14 Proyek Fiktif Berikut adalah 14 proyek yang ditemukan dugaan pekerjaan fiktif:

1.Proyek Normalisasi Kali Bekasi Hilir, Bekasi, Jawa Barat.

2.Proyek Banjir Kanal Timur (BKT) Paket 22, Jakarta.

3.Proyek Bandara Udara Kualanamu, Sumatera Utara

4.Proyek Bendungan Jati Gede, Sumedang, Jawa Barat.

5.Proyek Normalisasi Kali Pesanggrahan Paket 1, Jakarta

6.Proyek PLTA Genyem, Papua

7.Proyek Tol Cinere-Jagorawi (Cljago) Seksi 1, Jawa Barat.

8.Proyek Fly Over Tubagus Angke, Jakarta

9.Proyek Fly Over Merak- Balaraja, Banten.

10Proyek Jalan Layang Non Tol Antasari Blok M (Paket Lapangan Mabak), Jakarta

11Proyek Jakarta Outer Ring Road (ORR) seksi W 1, Jakarta

12.Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 2, Bali

13.Proyek Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa Paket 4, Bali

14.Proyek Jembatan Aji Tulur-Jejangkat, Kutai Barat, Kalimantan Timur

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menjelaskan, Fathor dan Yuly diduga menunjuk beberapa perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada sejumlah proyek konstruksi yang dikembangkan oleh perusahaan.

KPK sejauh ini mengidentifikasi empat perusahaan subkontraktor yang mendapatkan pekerjaan fiktif.

“Misalnya, dalam sebuah proyek besar, sebagiannya itu diduga disubkontrakan oleh para tersangka di perusahaan WK ini, untuk seolah-seolah dikerjakan empat perusahaan subkontrak tersebut.

Padahal sebagian dari 14 proyek sudah ada yang dikerjakan oleh perusahaan lain tapi kemudian dibuat seolah-olah disubkontrakan lagi,

” kata Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (17/12/2018). “Semacam agak dekat dengan konsep double budgeting, ya.

Jadi pekerjaannya sebagian sudah dikerjakan tetapi dibuat proyek fiktif sehingga pembayaran itu dilakukan setelah, kepada pihak subkontraktor.

Dan dikembalikan lagi ke beberapa orang di WK termasuk dua orang tersangka,” lanjutnya.

Namun demikian, Febri belum bisa menjelaskan secara rinci, bagian-bagian mana saja dari 14 proyek tersebut yang berupa pekerjaan fiktif. Perkiraan kerugian negara dari dugaan korupsi yang dilakukan oleh dua pegawai PT Waskita Karya (Persero), Tbk itu mencapai Rp 186 miliar. Jumlah tersebut merupakan hasil perhitungan sementara bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).Hasmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *