Berbakti ke Orang Tua

 

Jakarta,Ovumnews,Com– Ayah dan ibu doakan engkau jadi seorang yang membanggakan bagi keluarga, nusa dan bangsa.

Pernahkah kita mendapat doa ini dari orangtua? Terucap atau tidak, saya kira semua kita memahami harapan tersebut. Bahkan dapat terasa semakin mendayu-dayu doa itu, layaknya sedang syuting sinetron, ketika kita tidak lolos tes kerja. Apalagi kalau surat lamaran kerja kita selalu ditolak.
Saudaraku, petugas personalia itu ciptaan Allah Swt. Tidak usah membencinya saat saudara tidak diterima bekerja. Jangan dendam kepadanya, sekalipun surat lamaran saudara tidak dibaca dan langsung ditimbang di tempat jual-beli rongsokan. Dia cuma menandatangani atau menjual surat lamaran saja. Allah yang menentukan kita diterima atau ditolak.
Yakinlah bahwa Allah selalu memerhatikan. Terima dan senangi keputusan apa pun dari-Nya. Tidak boleh kecewa. Karena kita juga tidak kecewa dikaruniai kemampuan menyiapkan surat lamaran. Tetap tenang, walau sudah 40 tempat kita mengirim lamaran. Berkali-kali ditolak bukan berarti biodata kita itu sia-sia. Tapi semuanya sudah jadi amal. Dan Allah pasti punya rencana, tetaplah yakin kepada-Nya.
Demikian halnya kalau kita mengikuti tes CPNS. Sejak sebelum mengirim berkas, kita sudah harus terus ingat bila tes CPNS bukanlah ajang penentuan hidup dan mati. Cukup serahkan hidup dan mati kita hanya kepada Allah Swt. Bukan kepada kepala dinas, bupati, gubernur, presiden, ataupun sekjen PBB dan ketua negara adidaya.
Dengan begitu, pikiran, tenaga dan waktu kita tidak akan terkuras. Ringan saja ketika ditolak. Tidak akan ada istilah “harap-harap cemas” saat menanti pengumuman hasil ujian seleksi. Kita hanya berharap kepada Allah. Dan hanya takut kepada-Nya, seandai ada niat dan ikhtiar kita dalam melamar kerja yang tidak benar.
Termasuk kalau kita ditolak saat melamar pendamping hidup. Tidak perlu sedih. Bahkan kalau pernikahan kita tiba-tiba batal. Sama halnya jika kita tiba-tiba dipecat, walau baru sehari masuk kerja, dan orang tua pun belum pulang dari pasar membeli bahan-bahan untuk kenduri. Yakinlah Allah pasti punya maksud, dan kita harus rida kepada takdir-Nya.
Nah, kadang ketika lamaran kerja kita ditolak, apalagi kalau sudah berkali-kali, mendung mulai menyelimuti mata kita dalam melihat karir teman-teman seangkatan, maupun saudara di keluarga. Segala yang ada di depan mulai tampak kelam, merasa gagal jadi anak, dan merasa tidak berbakti kepada orangtua. Bangunan masa depan kita seolah-olah sudah dihempas dan porak-poranda oleh dingin dan kencangnya angin.
Saudaraku, apabila saudara sedang merasa demikian, maka tutuplah mata saudara. Dan fokuslah pada pendengaran. Mungkin saudara bisa mendengar tetesan air di genteng, karena mendung dan angin itu memang pertanda hari akan hujan. Atau mungkin saudara bisa mendengar suara azan magrib. Hari yang kelam karena memang sudah menjelang malam.
Maksud saya, mari kita dengarkan hati terdalam kita. Mari kita bertanya ke lubuk hati, benarkah ditolaknya lamaran itu berarti kita gagal berbakti kepada orang tua? Atau mungkinkah pekerjaan dan pasangan yang gagal dan batal tadi, sebetulnya hanyalah keinginan kita agar dihargai orang dan nafsu untuk berbangga-bangga? Dan kita membawa-bawa orang tua sebenarnya cuma sebagai bahan mendramatisir suasana saja.
Untuk apa kita mencari penghargaan makhluk? Sungguh tidak perlu. Apalagi berniat untuk berbangga-bangga, malah yang menanti kita adalah petaka. Bagusnya karir pekerjaan kita, sama sekali bukan patokan dalam berbakti kepada orang tua. Menarik dan tingginya pendidikan pendamping hidup, bukan jaminan orangtua kita bahagia di masa tuanya, dan tidak dapat menjamin keduanya masuk surga.
Saudaraku, ingatlah sabda Rasulullah saw, “Saat anak-anak Adam meninggal dunia, seluruh amalnya terputus, kecuali sedekah yang bersinambung, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya.” Rasulullah tidak menyebutkan doa dari anak yang kariernya bagus, mobil dan rumahnya banyak, serta pasangannya menarik dan berpendidikan. Tapi doa dari anak yang saleh.
Jadi, kita berbakti kepada orang tua itu sudah cukup dengan menjadi anak yang saleh. Sama sekali tidak ada gunanya bagi kedua orang tua, sekalipun karier anaknya tinggi menjulang dan hartanya melimpah-ruah, tetapi hidupnya tidak mengenal dan mendekat kepada Allah. Hanya tinggal menanti waktu datangnya bencana.
Benar memang, kadang cinta orang tua pada anaknya, bisa membuat keduanya sangat berharap agar kita menjadi anak paling pintar di kelas, selalu juara pertama dalam lomba panjat pinang, setelah besar bekerja di perusahaan ternama, menikah dengan seseorang dari keluarga terpandang, serta memiliki rumah megah dan mobil mewah.
Ketika pandangan hidup orangtua kita sudah begini, maka, sebagai anak yang saleh, tugas kita untuk mengingatkan keduanya dengan penuh cinta pula. Kita sampaikan secara baik-baik kepada keduanya bahwa Allah Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Munfiqn [63]: 9).
Kita berdoa kepada Allah Swt supaya mereka tidak dilalaikan dunia. Kita ajak mereka mempelajari al-Quran bersama. Membaca ayat-ayat yang mengecam manusia yang sibuk berlomba-lomba dan membangga-banggakan harta dan anak. Berbeda kalau kita sendiri tidak saleh, justru kita akan saling memotivasi untuk hidup bermegah-megahan, sehingga kita sama-sama berlari dan saling menjerumuskan ke dalam petaka.
Saudaraku, tidak perlu bersedih. Berkali-kali lamaran ditolak, bukan tanda akhir kehidupan. Tapi justru itu bisa menjadi awal merekahnya perjalanan, dengan hikmah-hikmah yang didapatkan. Kita tidak boleh berputus asa dalam berikhtiar. Dan pastinya, kita harus berbakti kepada orangtua dengan menjadi anak yang saleh. Terus-menerus belajar, mengenal dan mendekat kepada Allah Swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *