Dibalik Mundurnya Kabag Humas Pemkab. Pasaman

 

Lubuk Sikaping, Ovumnews.com-Masyarakat Kabupaten Pasaman khususnya, akhir-akhir ini sangat galau. Pasalnya, diduga ada upaya provokasi oknum tertentu, yang mengaku telah berjasa dalam kemenangan pasangan Yusuf Lubis- Atos Pratama sebagai bupati Pasaman, lakukan hal hal yang dapat merusak citra Bupati Yusuf Lubis maupun wakilnya Atos Pratama. Sementara, Yusuf Lubis, selaku Bupati Pasaman dalam setiap kegiatan acaranya, selalu mengatakan, pilkada telah usai, dan tidak ada lagi kubu “BEDA” dan kubu “YA”. Semuanya kembali bersatu, guna membangun pasaman kedepan, agar masyarakat menjadi sejahtera. Benarkah demikian…?

Ihwalnya, sejak pasangan Yusuf Lubis- Atos Pratama, menduduki kursi Bupati dan wakil Bupati Pasaman, ada upaya sistematis oknum-oknum tertentu, terkesan sengaja ciptakan suasana tidak kondusif ,pasca pertarungan perebutan kekuasaan antara kubu “YA” dan “BEDA”, mengarah pada perpecahan diantara masyarakat di Pasaman. Dan bahkan kini, secara nyata berimbas kepada para awak media yang ditugaskan di Kabupaten Pasaman itu.Pasalnya, memasuki pertengahan bulan April tahun ini, pembayaran tagihan koran dan pariwara, tak jelas kapan realisasinya.

Hal tersebut, Berawal dari keluarnya SK Bupati Pasaman No.188.45/199/Bup-Pas/2016 tentang pengurangan honor liputan berita, yang sebelumnya Rp.100 ribu per- berita menjadi Rp.35 ribu. Namun, SK tersebut dicabut lagi oleh Yusuf Lubis selaku Bupati Pasaman, pada pertemuan dengan wartawan. Terkesan Bupati nyaleneh mengaku tidak tahu adanya perubahan, karena hal tersebut usulan dari Budi Hermawan, selaku Kabag Humas Pemkab Pasaman.

Dari hasil investigasi dan informasi yang dihimpun wartawan, diketahui setingan yang mengarah perpecahan dan benturan antara kalangan insan pers dengan Bupati pasaman, memang cantik dan ada faktanya. Misalnya, soal belum direalisasinya pembayaran koran dan pariwara, hingga pertengahan bulan april tahun ini. Padahal, bila dipantau di kota dan kabupaten lainnya di provinsi Sumbar ini, sudah direalisasikan semuanya. Wajar, terkadang timbul dugaan yang macam macam terhadap penguasa yang baru.

Semula, kekuatiran para wartawan yang bertugas di kabupaten Pasaman ini, aspirasinya ditampung oleh organisasinya masing masing. Dan ke empat organisasi wartawan yang ada di pasaman, seperti PWI, KWRI, HIPSI dan HIPI, sepakat menyurati Bupati Pasaman, tentang SK Bupati yang mengurangi honor liputan berita. Beberapa hari setelah surat dilayangkan, Yusuf Lubis selaku Bupati Pasaman meresponnya, dengan mengundang seluruh wartawan yang tergabung pada ke empat organisasi wartawan tersebut di Balairong. “

Saya tidak tahu adanya perubahan SK, dari usulan Kabag Humas, jadi hal itu kesalahan Kabag humas. Untuk itu, saya mencabut kembali SK tersebut, dan kembali diberlakukan SK yang lama,” ujar Bupati Yusuf Lubis pada malam acara pertemuan dengan para wartawan itu.

Sementara, pada malam pertemuan dengan para wartawan di Balairong tersebut, ke empat ketua organisasi itu tidak ikut menghadirinya. Seperti yang diungkapkan Surya, Ketua KWRI Pasaman, ia mengaku tidak mengetahui adanya undangan dari Bupati, untuk menghadiri acara di Balairong, dan ia hanya mendengar dari orang bahwa Bupati mengatakan akan mengadakan pertemuan dengan para wartawan, ketika acara apel senen pagi. Tapi, ditunggu tunggu undangannya tak ada. Hal senada juga dikatakan Rismainaldi, ketua PWI, Edi Pernanda, Ketua HIPSI dan Mulyadi, Ketua HIPI Pasaman.

Namun demikian, ke empat ketua organisasi wartawan ini mengucapkan terima kasih pada Bupati Yusuf Lubis, yang telah merespon aspirasi para wartawan melalui organisasinya masing masing.

Terus, atas dasar syukur dan terima kasih tersebut, ke empat organisasi mengundang Bupati Yusuf Lubis, untuk bersilahturahmi langsung agar tak terjadi lagi mis komunikasi, di Restoran Sari Rasa, milik Saleh Lubis adik kandung Yusuf Lubis.
Bahkan, untuk biaya pertemuan itu, para wartawan yang tergabung di empat organisasi, patungan mengumpulkan dananya. Namun sayangnya, undangan ke empat organisasi tersebut, belum ditanggapi Bupati Yusuf Lubis hingga kini.

Keterangan dari Yudi ( Wartawan Pos Metro ), yang disebut sebut orang dekat dan selalu mengawal Yusuf Lubis kian kemari, menyebutkan, Bupati Yusuf Lubis merasa tidak dihargai karena ke empat organisasi wartawan ( PWI, KWRI,HIPSI dan HIPI ) di pasaman, tidak memenuhi undangannya. Itu sebabnya, Bupati Yusuf Lubis tidak melayani pula undangan ke empat organisasi wartawan tersebut. “Sebaiknya, para ketua dan wartawan yang tergabung di PWI,KWRI,HIPSI dan HIPI itu, sungkem dulu pada Bupati Yusuf Lubis, baru bisa dilayani,” saran Yudi dengan congkaknya.

Sementara, Kabag Humas Pemkab Pasaman, Budi Hermawan, mengakui telah mengajukan surat pengunduran dirinya selaku Kabag Humas Pemkab Pasaman, tertanggal 15 April 2016 lalu, karena tidak sanggup menhadapi tekanan serta berimplikasi dirinya akan dijadikan tumbal dari benturan oknum- oknum tertentu, dengan banyaknya muncul wartawan yang belum diketahui datangnya dari mana.

Kebanyakan dari mereka datang dengan tampilan beringas, dan memaksa untuk berlangganan korannya. Padahal, lanjut Budi, anggaran humas terbatas sesuai yang dialokasikan untuk liputan berita, pariwara dan oplah koran, sesuai kontrak dengan media yang ada selama ini, untuk anggaran tahun 2016. Tapi, karena mengaku ngaku dan menjual nama Yusuf Lubis, pihak humas jadi serba salah, ungkap Budi.

Soal belum terealisasinya pembayaran koran dan pariwara hingga jelang bulan Mei ini, lanjut Budi, bukan salah humas. Karena, pihak humas sudah mengajukan tagihan langganan koran ke Bupati, sesuai dengan data langganan Pemkab Pasaman, untuk anggaran APBD 2016. Dan hingga kini, belum turun persetujuan dari Bupati. “ Yang jelas, pihak humas tidak ada niat dan maksud untuk menunda nunda pembayaran tagihan koran. Dan bila sudah turun dananya, segera direalisasikan,” ujar Budi.

Adanya setingan untuk membenturkan pers dengan Bupati Yusuf Lubis, belum berpengaruh betul, sebab hanya masalah mis komunikasi. Namun, adanya setingan dari tim, untuk menghabisi pejabat yang dituding mendukung “BEDA”, terutama pejabat pejabat Pemkab Pasaman, asal Lubuk Sikaping. Dan sepertinya setingan itu berhasil, dimana tindakan awal yang diterima pejabat dimaksud, yakni, penarikan mobil dinasnya. Diantaranya, mobil dinas Kabid Bina Marga, Kabid Cipta Karya DPU Pasaman dan Mobil dinkes. Cara cara premanisme ini dilakukan, berupa wujud balas “dendam politik”.

Menyikapi kondisi yang mengarah tidak kondusif itu, dikomentari Pengamat Hukum dan Pers, Boy Roy Indra, SH, akui, memang, belakangan ini, akui adanya upaya provokasi dari oknum- oknum yang mengaku berjasa dalam kemenangan pasangan Yusuf Lubis- Atos Pratama, berupaya melakukan hal hal yang dapat merusak citra Bupati Yusuf Lubis maupun wakilnya Atos Pratama. Padahal, Yusuf Lubis, selaku Bupati Pasaman dalam setiap kegiatan acaranya, selalu mengatakan, pilkada telah usai, dan tidak ada lagi kubu “BEDA” dan kubu “YA”. Semuanya kembali bersatu, guna membangun pasaman kedepan, agar masyarakat menjadi sejahtera.

Namun, oleh orang orang yang mengaku timnya, justru tidak mengakomodir himbauan Bupati Pasaman tersebut. Diantara tim itu, ingin menuai imbalan secara instan dan cepat kaya. Tak heran, kini banyak yang muncul jadi wartawan dan ramai ramai mengurus perusahaan jadi kontraktor untuk mendapatkan proyek. Mungkin, mereka berfikir, dengan duduknya Yusuf Lubis dan Atos Pratama menjadi Bupati dan wakil Bupati Pasaman, bisa berbuat sekehendaknya.

Dikatakan Boy, padahal, untuk berprofesi wartawan dan kontraktor, butuh keahlian dan kompetensi di bidang kedua profesi tersebut. Apalagi, anggaran yang dikelola Pemkab Pasaman, adalah uang negara yang harus dipertanggungjawabkan oleh para SKPD dan termasuk Kepala daerahnya. Bila tim terus menerus memaksakan diri, sama saja mendorong Kepala Daerahnya masuk kandang situmbin.

Soal ketidak datangan para ketua organisasi wartawan, seperti dari PWI, KWRI, HIPSI dan HIPI, pada acara temu ramah dengan Bupati Pasaman di Balairong, hanyalah mis komunikasi. Dan hal itu bisa dikomunikasikan lagi, dalam pertemuan berikutnya. Karena, tipikal Yusuf Lubis, sudah dikenal masyarakat Pasaman. Dia sangat bijak, tak pernah membeda bedakan orang, jabatan dan suku. Mungkin, selama ini ada yang berupaya mengeruhkan suasana, guna kepentingan pribadinya, demikian ungkapnya. (mesta/afsyal/sol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *