Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sita 1.717 HP Ilegal

 

Karimun.Ovumnews.Com— Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kanwil Khusus Kepri mengekspose hasil penindakan penyelundupan ponsel dari wilayah Frade Trade Zone (Batam) Kamis (31/3/2016).

Menyita 1.717 unit handphone ilegal berbagai merek saat akan diselundupkan dari Batam ke Tembilahan, Riau, BC juga mengamankan 69.000 bungkus rokok ilegal merek Luffman. Penyitaan rokok dan handphone merupakan hasil pengejaran BC selama Maret 2016.

Kepala Kanwil DJBC Khusus Kepri Parjiya didampingi Kepala Bidang Penindakan Sarana Operasi (PSO) Raden Evy Suhartantyo dan Kepala Bidang Penyidikan dan Penyimpanan Barang Hasil penindakan (PPBHP) Winarko di kantornya, Kamis (31/3) mengatakan, handphone yang diamankan itu sebagian masih baru dan sebagian lagi sudah rekon (usang).

Penyitaan handphone dari wilayah FTZ Batam tersebut berawal dari ditemukannya tiga kapal yang diduga melakukan penyelundupan barang-barang dari wilayah FTZ ke wilayah non FTZ oleh kapal patroli Bea cukai di wilayah perairan Kepri. Tiga unit kapal tersebut terlihat mencurigakan.

Petugas di kapal patroli kami melihat adanya tiga kapal yang diduga hendak menyelundupkan barang-barang dari FTZ ke wilayah non FTZ, maka petugas kami langsung mengejar ketiga kapal itu. Namun sayang, hanya satu kapal yang berhasil ditangkap, sementara dua kapal lagi berhasil kabur,” jelas Parjiya.

Dua kapal lainnya itu berhasil kabur karena diduga memiliki kekuatan mesin yang lebih cepat dari mesin kapal patroli Bea cukai. Sementara, satu unit kapal yang berhasil ditegah itu karena petugas terlebih dahulu melepaskan tembakan peringatan. Karena takut, akhirnya mereka berhenti, dan kapalnya berhasil ditarik ke dermaga Ketapang, Kanwil DJBC Kepri.

Barang bukti yang berhasil ditangkap petugas Bea cukai Kepri bukanlah 1.717 unit handphone, melainkan adalah 5.00 unit. Parjiya kemudian menjelaskan, jika ketiga kapal penyelundup tersebut berhasil ditangkap, maka jumlah barang bukti akan mencapai 5.000 unit, namun karena yang ditangkap hanya satu kapal, maka barang bukti diatas kapal itu hanya 1.717 unit.

Selain tangkapan handphone, pihak DJBC juga merilis pencegahan lain yang terhitung sejak Januari hingga Maret 2016. tangkaan tersebut adalah tujuh tangkapan kapal yang membawa bawang merah dari Malaysia menuju pantai Timur Sumatera dan satu kali tangkapan ekspor rokok bermerk Luffman produksi Batam.

Parjiya mengakui, pada 2016 ini, jumlah tangkapan memang lebih berkurang jika dibandingkan pada tahun sebelumnya. Hanya saja, untuk nilai kerugian negara yang berhasil diselamatkan jauh lebih besar. Jika pada pada periode sebelumnya nilai kerugian negara hanya Rp17 miliar, namun kali ini mencapai Rp18 miliar.

Khusus dalam aksi penggagalan penyelundupan rokok, petugas patroli Bea Cukai Provinsi Kepulauan Riau sempat menembak kapal cepat “speed boat” yang mengangkut rokok tersebut.

Karena menggunakan ‘speed boat’ yang lebih cepat, kapal patroli kita kalah dalam kejar-kejaran. Namun karena petugas kita dipersenjatai, ‘speed boat’ itu bisa dihentikan dengan menembak mesinnya,” katanya.

Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Kanwil Ditjen BC Khusus Kepri R Evy Suhartantyo menambahkan, mesin “speed boat” tersebut ditembak petugas patroli Bea Cukai (BC) 119 yang melakukan pengejaran di perairan Tanjung Datok pada 11 Maret 2016.

Evy menjelaskan, speedboat tersebut mengangkut 69.000 bungkus isi 20 batang per bungkus rokok merek Luffman, diproduksi di Batam dan hanya boleh beredar di Kawasan Bebas Batam.

Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, kata dia, mendapat fasilitas bebas bea dan cukai, termasuk cukai rokok sehingga dilarang dibawa keluar Batam.

Parjiya menuturkan, selain hanya boleh beredar di Batam, rokok yang diproduksi di kota industri itu juga diperuntukkan untuk ekspor, dan kemasannya juga tidak dilengkapi pita cukai sebagai bukti membayar cukai rokok.

Modusnya termasuk baru, yaitu rokok itu sebenarnya untuk ekspor, tapi dalam perjalanan di laut kapalnya overskip atau membelokkan haluannya ke arah pantai timur Sumatera untuk dijual di luar Batam dan tentunya mengharapkan keuntungan yang besar,” kata dia.

Berdasarkan penghitungan bidang penyidikan dan penanganan barang hasil penindakan, lanjut dia, rokok yang diangkut speedboat itu berjumlah 1.380.000 batang dengan nilai diperkirakan Rp483.000.000 dan potensi kerugian negara berupa cukai, bea masuk dan PDRI sebesar Rp663.435.000.

Pengangkutan rokok dengan speedboat tersebut melanggar Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan UU Nomor 17/2006 tentang Perubahan Atas UU Nomor 10/1995 tentang Kepabeanan.

Pelanggarannya, nakhoda mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifest, dan menjalankan, menyimpan atau mengimpor barang kena cukai dan tidak membayar kewajiban untuk melunasi cukai itu,” kata Parjiya.

Kita menyita 1.717 unit ponsel, pihaknya juga mengamankan aksesoris dan suku cadangnya sebanyak 1.649 pcs dengan total nilai barang Rp4.122.700.000. Potensi kerugian negara sekitar Rp412.270.000,” kata Evy Suhartantyo.

Hp berbagai mereka seperti Samsung, Lenovo, Apple dan Asus dengan berbagai tipe dan seri.sudah dilimpahkan dan diproses bidang penyidikan dan penanganan barang hasil penindakan,”ant/ovn03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *