Ekspose BBI Sentral Sarilamak,Kadis Prikanan Kasak-Kusuk.

 

Limapuluh Kota, Ovumnews.com- Pra atau pasca mencuatnya ekspose misteri pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI ( Balai Benih Ikan ) Sentral di jorong Aia Putiah Sarilamak Kec. Harau, alokasi APBD Kab. Limapuluh Kota TA.2015 senilai Rp. 537.365.000,00 yang dikerjakan oleh CV. Surya Perdana alamat, Jl. Jakarta RT.03 RW.02 No.301 Parit Rantang Payakumbuh , diduga sarat KKN membuat Kadis Prikanan Kab. Limapuluh Kota kasak- kusuk cari suaka terhadap beberapa oknum diduga wartawan “Abal- abal”.

Pencarian suaka/ perlindungan versi Kadis Prikanan Limapuluh Kota, Ir, Ny. Refilza, 51 tahun, Edwar Hafri, Koord LSM AMPERA, sebelum mencuatnya ekspose misteri pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI Sentral di jorong Aia Putiah Sarilamak Kec. Harau, alokasi APBD Kab. Limapuluh Kota TA.2015 senilai Rp. 537.365.000,00 yang dikerjakan oleh CV. Surya Perdana alamat, Jl. Jakarta RT.03 RW.02 No.301 Parit Rantang Payakumbuh, alami telpon terror.

Hal tersebut dirasakan Dedengkot Aktivis, yang lantang berperan membantu lembaga penegak hukum negeri ini, lakukan pemantauan penggunaan alokasi anggaran pemerintah mendapat tantangan dari oknum suruhan Kadis Prikanan Limapuluh Kota, mengaku Elfina Zelmi, juga diduga Kadis Prikanan itu kasak – kusuk minta bantuan kepada beberapa oknum wartawan Abal- Abal daerah itu, demikian papar Edwar.

Kepada wartawan, dedengkot LSM tersebut katakan, adanya upaya oknum Kadis Prikanan itu kasak- kusuk minta perlindungan kepada beberapa oknum wartawan meskipun dituduh “Abal- Abal”, diantaranya Nsr, 58 Tahun, yang dikenal public petantang- patenteng bak seorang wartawan kawakan, meskipun memiliki kartu Pers salah sebuah Mingguan daerah ini, tak lebih dari seorang loper Koran, karena oleh banyak sumber katakan oknum Nsr, dituduh tidak pandai tulis baca, ujarnya.

Hal tersebut bisa dibuktikan, pengakuan Pimred Mingguan tersebut, mengkonfirmasikan sejauh mana kebenaran informasi Nsr, dituduh turut lakukan Kesepakatan Jahat versi wartawan “ Abal- Abal” yang berusaha meyakinkan pimred Mingguan tersebut, bahwa resume relis atas dugaan Misteri Pembangunan Kolam Air Masuk- Keluar BBI Sentral Sarilamak, adalah temuan mengada- ada serta sarat dengan dendam pribadi antara Kadis dan Edwar, demikian tanya pimred.

Masih menurut Edwar Hafri, mungkin disebabkan pimred pasca mempelajari relise LSM AMPERA Indonesia, froporsional dan telah memenuhi kaidah Jurnalistik, hasil sebuah investigasi sebuah LSM, akhirnya berita tersebut diekspose mingguan tersebut ( baca, Tabloid Zaman, edisi 16- 22 November 2015- red), dan mungkin bakal menjadi perhatian public, Ada Apa di balik Kasak- Kusuknya Kadis Prikanan Limapuluh Kota serta oknum yang mengaku- ngaku Wartawan yang diduga Abal- Abal itu.

Pasalnya, oleh Koordinator LSM AMPERA Indonesia, Edwar Hafri setelah mendapatkan informasi dari salah seorang tokoh masyarakat Sarilamak, bahwa saat ini ada paket pekerjaan pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI Sentral di Jorong Aia Putiah Sarilamak pada areal seluas 4,2 hektar oleh Satker Dinas Prikanan Kab. Limapuluh Kota, sejak 27 Agustus 2015 lalu.

Dipaparkan sumber tersebut, pihaknya merasa heran, atas pelaksanaan pekerjaan tersebut (Pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI Sentral-red), selain terkesan misteri, karena tidak diketahui apa nama paket pekerjaannya, siapa rekanan pelaksananya, serta berapa nilai proyeknya. Soalnya, sepengetahuan dirinya, bila ada paket pekerjaan yang dibiayai dari pajak rakyat, selalu kita temui plank proyeknya, demikian ujar sumber .

Padahal, menurut sumber lain kepada wartawan, patut dicurigai ada apa misteri dibalik pekerjaan yang posisinya kurang lebih 1 Km dipedalaman Jorong Aia Putiah Sarilamak Kec. Harau, nyaris tidak diketahui masyarakat luas.

Edwar dan temannya, awalnya merasa kaget menatapi plank proyek terpasang, Pembangunan Tempat Packing, Pos Jaga, dan Gudang Pelet yang dikerjakan oleh CV. Eka Putra alamat Jl. Veteran No. 57 Bunian Payakumbuh Utara – Payakumbuh, dengan nilai kontrak Rp 210.412.000,00.

Kesannya, seolah- olah pihak Satker Dinas Prikanan Kab. Limapuluh Kota, yang dikomandoi oleh Ir. Ny. Refilza, diduga berupaya mengelabui masyarakat atas paket pekerjaan Pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI Sentral, yang dibiayai dari pajak rakyat senilai Rp 537.365.000,00, oleh CV. Surya Perdana.

Berdasarkan resume LSM AMPERA Indonesia, kebetulan dilokasi proyek tersebut ada PPK, Yusnidar.R serta KPA, Alfadri ketika dimintakan tanggapannya atas tidak ditemui plang proyek, dua pejabat tersebut member jawaban berbeda. Menurut Yusnidar.R. keberadaan plang proyek, kini sedang dilakukan revisi, karena ada kesalahan.

Sedangkan Alfadri, terliaht pura- pura mencari dimana keberadaan plang proyek tersebut, seraya katakan dirinya ada melihat dimana ya..,” demikian ungkap dua pejabat terkait paket pekerjaan Pembangunan Kolam Air Masuk- Keluar BBI Sentral Sarilamak tersebut.
patut diduga misterinya pekerjaan oleh Satker Dinas Prikanan Kab.Limapuluh Kota itu, adanya kecurigaan LSM AMPERA diduga ada persekongkolan jahat, dapat merugikan keuangan Negara antara Satker dan rekan dalam pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan speck/ pengurangan volume pekerjaan.

Dilain pihak, berdasarkan pengamatan AMPERA Indonesia, juga khawatirkan bahwa pekerjaan baik paket Pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI Sentral dan paket Pembangunan Tempat Packing, Pos Jaga, dan Gudang Pelet dapat selesai pada akhir Desember 2015 ini.

Menyikapi kejadian diluar dugaan tersebut, kecurigaan LSM AMPERA Indonesia, bertekad tingkatkan penyelidikan dugaan kongkalikong penggunaan uang rakyat juga pada paket lainnya oleh Satker Dinas Prikanan Kab. Limapuluh Kota, yang dilakoni oleh Ir. Refilza, juga bertekad menggiring mandeknya kasus penyimpangan proyek Pipanisasi di Nagari Mungo Kec. Luak, senilai Rp.1,2 Miliar pada tahun 2009 lalu , antara Refilza semasa menjabat Kabid Prikanan, era Bupati Drs. Amri Darwis, oleh masyarakat hingga saat ini masih mempertanyakan tentang kasus penyimpangan tersebut. Asp.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *