Jajaran Polda Kepri Shalat Ghoib

 

Batam .ovumnews.com–Jajaran Polda Kepr i menggelar  Shalat  Ghoib Kamis (1/11), bertempat di Masjid Al Halim, Komplek Mapolda Kepri. Shalat digelar dalam rangka mendoakan korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan Kerawang Jawa Barat beberapa hari lalu.

Kapolda Kepri Irjen Pol Andap Budhi Revianto SIK menyampaikan, kegiatan tersebut bentuk belasungkawa atas meninggalnya 189 korban kecelakaan pesawat, 3 diantaranya personil Polri (AKBP Sekar Maulana, AKBP Mito, Bripka Rangga Adiprana)

Kegiatan ini bentuk rasa empati kita, dan kita dituntut untuk peka terhadap musibah, bersyukur kita masih diberikan kesehatan, kekuatan dan kesempatan oleh-Nya,” ujar Andap. Sementara Ustad H Ahmad Hanafi Taher MA dalam tausiahnya mengatakan, kematian adalah hal yang paling dekat dengan manusia dan itu pasti akan datang.

Dikatakannya, siapa yg paling cerdas diantara kita, yaitu mereka yg paling banyak mengingat kematian. Mereka yang senantiasa mengingat kematian dan melakukan amal soleh atas hal tersebut, mereka termasuk golongan manusia yang cerdas,” ujar ustad Ahmad.

Acara yang digelar mulai pukul 08.00 turut dihadiri oleh Wakapolda Kepri Brigjen Yan Fitri serta sejumlah pejabat utama Polda Kepri.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan akan mengevaluasi tarif batas bawah penerbangan pasca jatuhnya pesawat Lion Air di Karawang, Jawa Barat, Senin lalu. “Mungkin saya akan evaluasi terutama berkaitan tarif batas bawah,” ujar dia di Kementerian Perhubungan, Kamis, (1/11).

Ia mengatakan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam menaikkan tarif batas bawah. Salah satunya depresiasi rupiah. “Tarif ini memang dengan adanya dolar yang naik, avtur naik itu memang sangat sensitif,” kata dia.

Budi mengatakan harus berhati-hati dalam menaikkan tarif batas bawah karena dapat berpengaruh kepada konsumen. Ia berharap kenaikan batas bawah sebesar 5 persen dapat menutupi kenaikan dolar dan harga avtur.

Penetapan tarif batas atas dan bawah tiket penerbangan diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Batas bawah yang diatur dalam peraturan tersebut yaitu 30 persen dari batas atas.

Budi mengatakan akan memperketat standar keselamatan penerbangan baik untuk maskapai berbiaya murah atau LCC maupun pesawat dengan pelayanan penuh pasca jatuhnya Lion Air. “Kami akan memperketat assessment keselamatan penerbangan untuk semua maskapai tidak hanya LCC,” kata dia.

Salah satu bagian black box Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ditemukan penyelam Batalyon Intai Amfibi TNI AL hari ini. Black box yang ditemukan adalah Flight Data Recorder (FDR). Apa isinya?

Investigator KNKT, Bambang Irawan untuk menjelaskan bagian black box yang ditemukan. Bambang menyebut itu kemungkinan besar FDR. “Ini kemungkinan besar FDR. CVR masih kita cari,” kata investigator KNKT, Bambang Irawan, dalam jumpa pers di Kapal Baruna Jaya I, Kamis (1/11).

Kabasarnas Marsekal Madya M Syaugi kemudian memberikan keterangan singkat soal data-data di dalam FDR ini. “Jadi isinya data penerbangan, ketinggian pesawat dan lain-lain,” katanya.

Dua bagian di black box yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Berdasarkan data yang pernah diberitakan detikcom sebelumnya, baik CVR dan FDR terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam. Kedua adalah kotak tempat alat untuk merekam berada, seperti kaset, CD, atau chip. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang seharusnya bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.

Nah FDR yang sudah ditemukan ini merekam data-data penerbangan. Alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.

Data yang diperoleh lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang salah satunya bernama Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan. FDR Lion Air PK-LQP akan segera di-download datanya di laboratorium KNKT.ovn 03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *