Jalan Aspal Siap, Getah Terjual Mahal

 

Pasaman.Rao Utara.Ovumnews.com—Warga kampung Sopo Duo dan Gunung Manahan di ujung Utara Kecamatan Rao Utara Kabupaten Pasaman, kini mulai bernapas lega. Dambaan mereka yang sudah bertahun-tahun, yang selama ini dirasa mustahil, namun sekarang sudah terwujud.

“Semenjak negara ini merdeka 77 tahun silam, baru sekarang kami masyarakat Sopo Duo merasakan nikmatnya kemerdekaan,” ujar Togar Nasution, tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh tersebut.

Dari liputan media ini di Kampung Sopo Duo, Selasa (18/4) kemaren, terlihat wajah-wajah sumringah warga setempat. Beberapa unit sepeda motor dan mobil pick up L300 tampak lalu lalang mengangkut hasil bumi dan hasil kebun warga.

“Rata-rata kami disini berkebun karet. Kalau dulu hasilnya harus dijual murah, lantaran terbebani ongkos angkut yang besar. Tapi kini tidak lagi, sejak jalan ke kampung ini mulus, hasil kebun kami sudah terjual tinggi. Lihat saja Pak, para toke getah dan pinang sudah langsung kesini,” sebut Inang-inang (ibu-ibu) sambil membelah pinang di halaman rumah mereka.

Memang sejak akhir tahun 2016 lalu, wilayah di kawasan perbatasan Sumatera Utara dan Sumbar itu sudah mulai disentuh pembangunan. Salah satunya dan yang paling didambakan masyarakat adalah pembangunan jalan.

“Tahun anggaran 2016 lalu Pemkab Pasaman mengalokasikan anggaran Rp.528.908.000,- untuk pengaspalan jalan ruas Gunung Manahan – Sopo Duo sepanjang 1,2 kilometer. Hasil pekerjaan cukup bagus, malah dari partisipasi rekanan kontraktor CV Bina Mandiri , panjang jalan tersebut menjadi 1,3 kilo meter,” ujar Alfa Kanif, mantan Kabid Bina Marga yang kini menjabat Kabid Cipta KIarya Dinas PU Pasaman.

Proyek peningkatan jalan Gunung Manahan – Sopo Duo dikerjakan pada penghujung tahun 2016. Semestinya pada masa akhir tahun di Kabupaten Pasaman, adalah masa sulit dalam pelaksanaan proyek-proyek, apalagi proyek jalan dan irigasi, karena sebagian besar wilayah Pasaman diguyur hujan di penghujung tahun.

“Memang benar, saya salah seorang tukang pasang batu di proyek itu. Namun karena kontraktornya cukup loyal dan royal, maka kami pun bekerja tak berpantang. Kalau siangnya hari hujan dan sorenya teduh, maka kami akan lanjut berkerja, kalau perlu sampai malam, biar proyek ini cepat selesai dan hasilnya bisa bagus,” tutur Dodi (43 th), tukang senior warga Tarok, Lubuk Sikaping, yang menjabat kepela tukang. Surya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *