Kejaksaan Payakumbuh Bidik BBI Sentral Sarilamak dan Pipanisasi Mungo ?

 

Payakumbuh, Ovumnews.com-Aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan Negeri Payakumbuh, agaknya bertekad selain menuntaskan menuntaskan penyidikan atas kasus dugaan tindak pidana korupsi, baik yang telah masuk pemberkasan terdahulu, maupun ramai di ekspose media akhir- akhir ini.

Hal tersebut terungkap oleh Kepala Kejaksaan Negeri Payakumbuh, melalui Kasi Intel, Ade Azhari, SH, dalam bincang- bincangnya dengan wartawan diruang kerjanya baru- baru ini, bertekad upayakan tuntaskan penyidikan atas kasus dugaan tindak pidana korupsi, baik yang sebelum dan setelah ia dipercaya Kasi Intel kejaksaan Negeri Payakumbuh ini, baru- baru ini.

Tentunya tidak terkecuali, kini hangat diperbincangkan masyarakat luas, selain misteri pembangunan Kolam air masuk- keluar BBI ( Balai Benih Ikan ) Sentral di jorong Aia Putiah Sarilamak Kec. Harau, alokasi APBD Kab. Limapuluh Kota TA.2015 senilai Rp. 537.365.000,00 yang dikerjakan oleh CV. Surya Perdana alamat, Jl. Jakarta RT.03 RW.02 No.301 Parit Rantang Payakumbuh Barat, yang dituduhkan sarat KKN dan berpotensi dijerat UU No.31 Tahun 1999 tentang Pencegahan Tindak Pidana Korupsi, juga kasus lainnya kini ramai diperbincangkan public Luak Limopuluh itu.

Menyikapi ramainya gonjang ganjing pembicaraan masyarakat, pasca tereksposenya pembangunan Kolam BBI sentral Sarilamak Dicurigai di Koran ini, tampaknya masyarakat Kenagarian Mungo Kec. Luak Kab. Limopuluh Kota bereaksi dan mempertanyakan kasus Kongkalikong proyek Pipanisasi oleh Dinas Prikanan Kab. Limapuluh Kota, tahun 2009 yang dikerjakan oleh CV. Emha Jaya, senilai Rp.1,2 M, diduga sarat KKN serta tidak sesuai speck.

Karena menurut Walinagari Mungo, Mestari Dt.Rajo Malikan serta Ketua Badan Musyawarah ( Bamus) Nagari Mungo, Julius, yang berhasil dimintakan tanggapannya oleh wartawan, baru- baru ini, akui bahwa masyarakat Mungo selain sangat kecewa atas realisasi proyek Pipanisasi ala Dinas Prikanan Limapuluh Kota, Tahun 2009 lalu.

Senada dikatakan Walinagari dan Ketua Bamus Mungo itu, selain tidak berfungsinya alokasi uang rakyat senilai Rp.1.2 M itu, juga masyarakat sangat dirugikan pekerjaan CV. Emha Jaya, perusahaan asal Lubuk Basung Agam itu, akibat penempatan pipa- pipa dilakukan dalam saluran pengairan masyarakat, kekeringan ketika musim panas dan meluluh lantakan tanaman padi akibat meluapnya air dari saluran irigasi masyarakat.

Menurut Walinagari Mungo, pihaknya pernah di iming- imingi oleh Dinas terkait, kegagalan proyek pipanisasi 2009 senilai Rp.1,2 M, akan diperbaiki serta ditingkatkan alokasi anggarannya. Namun, agaknya hal tersebut sebatas iming- iming, agar masyarakat tidak meributkan sejauh mana penyidikan kasus proyek pipanisasi Tahun 2009 senilai Rp.1.2 M oleh penyidik Tipikor Polres Kota Payakumbuh, kini dipersoalan kembali oleh masyarakat, bisa diambil alih oleh Kejaksaan, demikian pinta Dt. Rajo Malikan dan Jalius. (KE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *