Kejati Riau Tangkap PNS Pemko Batam

 

Pekanbaru Ovumnews,com– Kejati Riau akhirnya menangkap Niwen Khairiah dan mengeksekusinya di LP Anak dan Perempuan Pekanbaru, Riau, Kamis (2/2). Niwen memiliki rekening gendut hingga Rp 1,2 triliun dari bisnis hitam penyelundupan BBM ke Malaysia-Singapura.

Niwen Khairani terdakwa kasus pencucian uang ketangkap di Jakarta oleh tim Kejati Riau. Dari Jakarta dibawa jam 13.00 WIB ke Pekanbaru, sampai sekitar jam 16.00 WIB, langsung dilakukan pemeriksaan sebentar dan langsung dititipkan LP Anak dan Perempuan Pekanbaru,” kata Asisten Pidsus Kejati Riau, Sugeng Riyanto seperti dikutip Detik.com, Kamis (2/2).

Niwen Khairani adalah PNS Pemko Batam yang awalnya diselidiki dalam kasus rekening gendut Rp 1,2 triliun. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata transaksi uang sebanyak itu adalah pencucian uang dari kasus penyelundupan BBM yang melibatkan kakak kandungnya Ahmad Mahbub alias Abob.

Dalam persidangannya, di PN Pekanbaru, Niwen diputus bebas. Jaksa kasasi dan pada Februari 2016 MA menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 3 miliar subsidair 1 tahun serta uang pengganti Rp 6,6 miliar subidair 5 tahun penjara.

Niwen sedang diproses administrasi ke LP Perempuan dan Anak Pekanbaru untuk menjalani masa pidana 10 tahun.

Ketika vonis bebas, Niwen keluar dari tahanan dan menghilang. Termasuk saat putusan MA, Niwen juga tidak mau menyerahkan diri. “Dalam pemantauan kita 10 hari terakhir, kita mengetahui Niwen di seputaran Jakarta dan baru tadi siang setelah tertangkap dibawa ke Pekanbaru,” ujar Sugeng.

Pihak kejaksaan sudah menyita sejumlah harta milik terdakwa. Di antaranya, 9 rumah dan tanah serta mobil. Di sisi lain, ketua majelis hakim yang membebaskan Niwen di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, Achmad Setyo Pudjoharsoyo, sedang mendapat promosi menjadi Sekretaris MA.

Niwen Khairiah seharusnya menghuni penjara selama 10 tahun setelah vonis bebasnya dianulir Artidjo dkk. Namun putusan itu tidak langsung diekskusi kejaksaan. “Isu putusan saya enggak bisa berkomentar, tapi itu wewenangnya hakim tinggi. Misalnya ada laporan pelanggaran kode etik itu baru bisa ditindaklanjuti,” ungkap ketua KY Aidul Fitriciada Azhari menanggapi lambannya eksekusi.

Apakah ada oknum-oknum terkait yang bermain nakal pada putusan itu?. “Kita belum tahu. Tapi bila memang ada laporan seperti itu kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut,” sambung Aidul menjawab pertanyaan wartawan.

Sebagaimana diketahui, Niwen merupakan PNS di Batam dengan jabatan terakhir Kepala Seksi Kerjasama Luar Negeri BPM Kota Batam. Selain itu Niwen juga memiliki aliran dana transaksi yang fantastis hingga Rp 1,2 triliun.

PPATK mencium kejanggalan arus lalu lintas rekening Niwen dan melaporkannya ke Mabes Polri. Niwen akhirnya dibekuk dan terungkap bahwa ia menjadi bagian dari sindikat mafia minyak Batam-Singapura-Malaysia. Komplotan itu lalu diadili dan Pengadilan Tipikor Pekanbaru, yang diketuai Achmad Setyo Pudjoharsoyo, menjatuhkan hukuman:

1. Niwen divonis bebas.
2. Yusri divonis bebas.
3. Arifin Achmad divonis bebas.
4. Danun dihukum 4 tahun penjara.
5. Achmad Machbub dihukum 4 tahun penjara.

Setelah divonis bebas, Niwen kemudian dikeluarkan dari tahanan. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi untuk kelima terdakwa. Akhirnya, Artidjo, MS Lumme, dan Abdul Latief menjatuhkan hukuman:

1. Niwen dihukum 10 tahun penjara dan uang pengganti Rp 6,6 miliar.
1. Yusri dihukum 15 tahun penjara.
2. Dunun dihukum 17 tahun penjara dan uang pengganti sebesar Rp 72.452.269.000.
3. Machbub dihukum 17 tahun penjara.Ovn03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *