Kisah Buya Hamka Ulama Besar

 

Jakarta.Ovumnews.com–Buya Hamka Masa Muda, Dewasa, Menjadi Ulama, Sastrawan, Politisi, Kepala Rumah Tangga Sampai ajal menjemputnya
OvumNews.Com –Kupasan Cerita isi Buku mengenai riwayat Hidup dari seorang ulama besar sekaligus sastrawan besar yaitu Buya Hamka, yang ditinjau dari sudut pandang orang kedua yang ditulis oleh putranya langsung, Irfan Hamka. Buku ini terdiri dari sepuluh bab dengan beberapa bahasan secara langsung mengenai Prof. Buya Hamka, yang diawali dengan sambutan atau kata pengantar dari DR.Taufiq Ismail.
Bab pertama berjudul, Sejenak mengenang nasihat Ayah, bercerita beberapa nasihat yang diberikan oleh Buya Hamka secara langsung kepada anaknya secara langsung. Buya Hamka merupakan seorang ulama yang pada saat jamannya banyak mengisi acara di RRI dan mimbar Jum’at di TVRI, dan banyak masyarakat yang kemudian datang langsung ke rumah kami di jalan Raden Fatah III, Kebayoran Baru,untuk berkonsultasi seputar permasalahan hidup yang sedang dialami. Dalam bab ini diceritakan salah satu ibu-ibu yang meminta nasihat kepada Buya Hamka tentang keluarganya, bagaimana wanita tersebut minta cerai karena masalah yang terjadi dengan suami, dan buya memberikan solusi yang benar-benar berdasarkan nilai-nilai agama. Nasihat berikutnya diberikan kepada sesorang yang berhubungan dengan tetangga. Dan nasihat terahir diberikan kepada Irfan Hamka sendiri,ketika dia tidak sholat jama’ah ke masjid. Buya Hamka memberikan nasihat kepada anaknya bahwa, ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong, pertama harus memiliki mental baja, kedua tidak pelupa akan kebohongan yang diucapkan dan yang ketiga harus menyiapkan bahan-bahan perkataan untuk melindungi kebohongannya. Buya Hamka merupakan sosok ulama yang benar-benar membina tidak hanya umat tetapi benar-benar membina keluarganya.
Untuk bab dua, Ayah dan Masa Kecil kami, bercerita tentang perjuangan HAMKA ketika menjadi pejuang sampai beliau menjadi sosok penjabat dan juga seorang guru silat. Buya Hamka merupakan tokoh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan sekaligus tokoh Front Kemerdekaan Sumatera Barat yang tidak gentar melawan penjajahan Belanda pada waktu itu, digambarkan oleh penulis bagaimana sosok Buya Hamka mengajak keluarga yang ia cintai untuk pergi meninggalkan desa untuk berlindung dari penjajah serta mampu melindungi mereka. Disini diceritakan bagaimana sosok Buya Hamka menjadi guru ngaji dan juga guru silat anaknya, karena memang Buya Hamka dididik dari keluarga yang kental kehidupan agamanya. Karena memang ayah dari Buya Hamka, Syech Abdul karim Amrullah, merupakan ulama besar didaerah Bukit Tinggi yang sangat tersohor namanya. Buya Hamka juga didik dengan seni bela diri khas Bukit Tinggi untuk membela diri jikalau ada ancaman yang benar-benar mendesak, misal melawan penjajah.
Pada bab tiga dan empat, penulis menceritakan mengenai kemampuan Buya Hamka Dalam berdamai dengan Jin dan Ketika Buya Hamka naik Haji bersama keluarga, yang diceritakan dengan sudut pandang anaknya. Tentang Buya Hamka yangberdamai dengan Jin dikisahkan bahwa rumah yang ditinggalinya bersama keluarganya di Jakarta ada cerita aneh-aneh dan baru diketahui bahwa ada jin nya. Buya Hamka berusaha menyelesaikan itu semua dengan berdialog langsung untuk tidak mengganggu keluarganya, dan akhirnya permasalahan selesai. Pada bab empat diceritakan tentang naik haji Buya Hamka yang ditemani Irfan Hamka dan juga istri Buya Hamka itu sendiri, mulai dari pemberangkatan sampai pulang dari haji. Disana diceritakan perjalanan awal mulai dari pelabuhan tanjung perak sampai pelabuhan Teluk bayur Sumatera barat, dikisahkan tentang keadaan jama’ah haji didalam kapal yang melaksanakan perjalan jauh hingga sepotong cerita haji Sabri.
Pada bab lima enam dan tujuh serta delapan,lebih bercerita tentang kehidupan pribadi Buya Hamka bersama sosok istrinya yang senantiasa menjadi teman hidup setia ketika Buya hamka ditahan sampai menjadi ulama besar. Tetapi sebelumnya di bab lima diceritakan tentang perjalanan Buya Hamka mengunjungi Suriah, Libanon dan irak serta ketika Buya Hamka selamat dari maut ketika perjalanan, seperti topan padang pasir,air bah dan lain-lain. Pada bab tujuh terjadi kesedihan dalam diri Buya Hamka, karena wafatnya istri tercinta yang sering dipanggil “Ummi” yang meninggalkan jejak yang begitu luar biasa, dan akhirnya Buya Hamka menikah kembali dengan sosok wanita dari Cirebon. Pada bab delapan diceritakan tentang kucing kesayangan dari Buya Hamka namanya Si Kuning. Si Kuning diceritakan sangat senantiasa menemani Buya ketika di masjid dan ketempat lain.
Pada bab sembilan, Ayah hasil Karya dan Beberapa Kisah,mengisahkan sepenggal perjalanan hidup Buya Hamka dari masa kecil sampai lahirnya karya-karya besar Buya Hamka. Buya Hamka adalah putra Syekh Abdul karim, seorang ulama yang cukup terkenal di Sumatera dan ibunya Shaffiah. Buya Hamka merupakan anak sulung dari empat bersaudara.Waktu itu, di pandang Panjang ada tiga tingkatan sekolah dasar berdasarkan strata sosial masyarakat; yaitu sekolah desa (3 tahun), sekolah Gubernemen (4 tahun) dan Els (7 tahun). Ketika berusia 13-14 tahun, ayah telah membaca tentang pemikiran-pemikiran Djamaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh dari arab. Dari dalam negeri, beliau mengenal pula pemikiran-pemikiran HOS Tjokroaminoto, KH.Mas Mansyur, Ki bagus Hadikusumo, H.Fachrudin dan lain-lain.Buya Hamka menjadi pengurus Muhammadiyah dan mengembangkannya di daerah Sumater, walaupun dia tidak punya diploma. Buya Hamka juga menimba ilmu ke kota Mekah ketika umurnya belum genap 18 tahun. Buya Hamka mulai ke jalan dakwah ketika dia menulis di Suara Muhammadiyah dan mengajar agama di kota Deli. Hasil karya Buya Hamka sangat banyak sekali dan yang paling terkenal adalah Tafsir Al-azhar dan juga keputusannya yang sangat tegas yaitu larangan merayakan hari raya natal bagi umat muslim di Indonesia, dan ini mendapatkan kontra dari pemerintah.Buya hamka juga pernah dituduh melanggar Undang-Undang anti Subversif Pempres No.11 yaitu merencanakan pembunuhan presiden Soekarno, walaupun ini tidak terbukti. Diceritakan juga bagaimana jiwa besar Buya Hamka ketika berhubungan dengan beberapa tokoh, misal Pramoedya Ananta Toer yang telah banyak memusuhinya, namun Buya Hamka membalasnya dengan akhlak yang baik. Dan yang paling terahir dari bab sembilan ini adalah ketika Buya Hamka menikah lagi denga Hj.Siti Chadijah, dan biasa dipanggil “Ibu”dalam buku ini.
Pada bab sepulu ini, merupakan bab penutup yaitu wafatnya Buya Hamka yang telah banyak meninggalkan kenangan yang sangat banyak dimata kelaurga dan rakyat Indonesia. Sosok seorang ketua MUI yang menolak mencabut fatwa tentang haramnya merayakan natal bagi umat muslim, Buya Hamka meninggal pada hari Jum’at,tanggal 24 Juli 1981, pukul 10 lewat 37 Menit. Bagaimana sosok Buya Hamka menyisakan duka yang mendalam bagi kerabat dan juga yang paling jelas adalah pemikiranannya yang begitu mencerahkan umat islam di Indonesia. Semoga lahir sosok seperti beliau di bangsa ini, amiin.Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *