Kontraktor Diduga Ancam KPA dan PPTK Dirut PT. Rajawali CWP Di Laporkan Ke Polisi

 

Pasaman, Ovumnews.com–Jauh sebelumnya, sudah diprediksi pihak Dinas PU Pasaman bahwa proyek pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang- Botung Busuk yang dilaksanakan PT. Rajawali Citra Wahana Pasaman (PT. RCWP) akan bermasalah. Parahnya, sang kontraktor diduga memaksa dan mengancam KPA serta PPTK proyek tersebut, agar pekerjaan yang terindikasi amburadul tersebut diterima dan di PHO. Tak terima diperlakukan semena mena, Afrinal ( PPTK ) selaku Abdi Negara melaporkan Dirut PT. RCWP ke Polsek Lubuk Sikaping, Jum’at 30 Desember 2016 kemaren.

Belum diketahui secara pasti, siapa dibelakang Dirut PT. RCWP yang akrab disapa Lisnu, begitu berani dan nekad bertindak “semau gue” dan mengancam. Bayangkan, pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang- Botung Busuk, Rao, Kabupaten Pasaman yang dilaksanakannya telah merisaukan masyarakat sekitarnya dan ditambah peringatan 2 kali dari pihak Dinas PU Pasaman, karena pekerjaannya diduga tidak sesuai dengan speck. Dan bahkan, pihak Kejari setempat sedang menangani dugaan kasus korupsi atas proyek jalan Pintu Padang- Botung Busuk itu. Namun, sang Kontraktornya tetap ngotot dan mengancam, agar pihak KPA dan PPTK nya menerima dan mem- PHO- kan ( serah terima 100 % pekerjaan ). Padahal, bobot pekerjaan belum mencapai 80 %.

Ceritanya begini, sekitar jam 11 siang, pada jum’at 30 Desember tahun kemaren, Lisnu selaku Dirut PT. RCWP, Afrinal selaku PPTK dan KPA nya Alfakanif, melakukan perbincangan diruang Kabid Bina Marga Dinas PU Pasaman, dalam rangka musyawarah mencari solusi atas pekerjaan jalan Pintu Padang- Botung Busuk yang belum siap.Namun, waktu itu, Lisnu tak terima solusi yang disampaikan Kabid Bina Marga, Alfakanif. Ia tetap memaksa agar pekerjaannya bisa di PHO. Terus, sang kontraktor meradang dan menyerang Afrinal ( PPTK ), namun cepat dilerai salah seorang yang sedang berada di TKP pada saat itu.

Dan pada hari itu juga, sekitar pukul 14.30 wib, Afrinal ( PPTK ) yang merasa diancam berkepanjangan itu, saat melaksanakan tugasnya sebagai abdi Negara dalam mengawasi proyek tersebut, langsung melaporkan perbuatan Lisnu itu ke Polsek Lubuk Sikaping.

Menurut Boy Roy Indra,SH, selaku kuasa hukum Afrinal, telah berkoordinasi dengan Kapolsek Lubuk Sikaping dan Kanit Resersenya, tentang pasal pasal yang akan diterapkan. Dan semula, pihak Polsek lebih cendrung menempatkan kasus tersebut pada pasal 335 KUHP, tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Namun menurut pendapat Boy, selain pasal 335 KUHP, apa yang telah dilakukan Lisnu selaku Dirut PT.RCWP, terhadap Afrinal yang sedang menjalankan tugasnya, lebih tepat menempatkan Pasal 212 KUHP, yang bunyinya, “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan kepada seorang pegawai negeri yang melakukan pekerjaannya yang sah, atau melawan kepada orang yang waktu membantu pegawai negeri itu karena kewajibannya menurut undang undang atau karena permintaan pegawai negeri itu,dihukum karena perlawanan, dengan hukuman penjara selama lamanya 1 tahun 4 bulan,”ujar Boy.

Sebelumnya, pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang- Botong Busuk yang dikerjakan asal asalan oleh PT.Rajawali Citra Wahana Pasaman itu, diakui oleh Alfakanif,ST, selaku Kabid Bina Marga Dinas PU Pasaman. Menurutnya, sebelum dilaksanakan item item pekerjaannya, pihak PU selalu melakukan contoh pekerjaan secara benar sesuai dengan specknya ( trael aspal ). Namun, diluar sepengetahuan pihak dinas PU, si kontraktor justru melenceng dari specknya. “ Kami dari pihak Dinas PU Pasaman, telah memberi peringatan kedua pada PT. Rajawali Citra Wahana Pasaman selaku pelaksananya. Dan pihak Dinas PU juga telah melakukan MoU dengan pihak Kejaksaan, dalam pengawasan dan serah terima proyek di Pasaman,” ungkap Alfakanif didampingi Afrinal,ST, selaku PPTK nya.

Masalah pelaksanaan pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang- Botung Busuk, dengan anggaran Rp.2 milyar lebih dari APBD 2016 yang dikerjakan PT. Rajawali Citra Wahana Pasaman memang sudah masuk ke ranah hukum. Karena, dari hasil investigasi GNPK ( Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ), ditemukan pembuatan jalan coran, tidak sesuai dengan specknya dan terindikasi mengurangi volume yang diduga kuat akan merugikan keuangan negara. Untuk itu, Surya Darma, selaku Koodnator GNPK Pasaman, telah melaporkannya ke Kejaksaan Negeri Pasaman.

Hal itu, bermula dari informasi beberapa warga Pintu Padang dan Botung Busuk, yang menceritakan nasibnya, sejak adanya pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang ke Botung Busuk, sekitar 3 kilo meter, kehidupan mereka jadi sulit. Seperti yang diungkap salah seorang warga Botung Busuk, yang mengaku bernama Uyun. Menurutnya, selama proses pekerjaan jalan coran, tak bisa lagi membawa hasil panen karetnya, paling dibawa dengan ojek, itupun tak seberapa dan ongkosnya lebih mahal. “Saya pernah protes pada pelaksananya, kenapa akses jalan ditutup semua, padahal jalan coran telah lama siap,” tutur Uyun menirukannya lagi. Karena memprotes, saya justru diancam, tambahnya.

Begitu juga yang diungkapkan Astinar, juga warga Botung Busuk. Dengan terbata bata ia mengungkapkan nasib keluarganya, yang jadi sulit mencarikan biaya putrinya sekolah di Lubuk Sikaping. Biasanya, ujar Astinar, hasil panen padi dan sayuran tak perlu keluar kampung untuk menjualnya, karena ada toke yang langsung datang ke lokasi. Kini, sejak akses jalan ditutup, terpaksa nyewa ojek dan hasilnya tak seberapa. Mengetahui keluhan masyarakat tersebut, beberapa wartawan dan LSM di Pasaman, bergabung membentuk tim, guna melakukan investigasi ke lokasi pekerjaan Pintu Padang- Botung Busuk itu.

Dan dari gabungan Wartawan dan LSM yang disebut Tim 7 , turun ke lokasi pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang – Botung Busuk, yang dikerjakan PT. Rajawali Citra Wahana Pasaman tersebut. Dan ternyata, apa yang diinformasikan warga Botong Busuk, memang benar adanya. Menurut Risnaldi, selaku KetuaTim 7, memang terlihat jalan coran ( Rigit beton ), sepanjang 1,3 Km, ditutup total oleh kontraktornya. Sehingga, mempersulit akses masyarakat keluar masuk dari Pintu Padang ke Botung Busuk.

Sementara, kualitas pekerjaannya terkesan asal asalan, lanjut Risnaldi, dan diduga adanya pengurangan volume specknya. Seperti, adanya ditemukan pemasangan yang memakai batu pecah yang tidak sesuai dengan volumenya. Kemudian, ditemukan pemakaian pasir krekel, yang seharusnya menggunakan pasir gunung ( pasir uruk ).Sehingga, terlihat jelas pengurangan volume dalam pengerjaan Sirtu badan jalan ( base ), dimana dalam kontrak ketebalannya 15 Cm, sedangkan ketika diukur rata rata dibawah 10 Cm, jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Boy Roy Indra,SH ( wartawan Zaman ) yang ikut dalam tim 7 tersebut. Menurutnya, patut diduga kuat adanya penyimpangan dalam pekerjaan peningkatan jalan Pintu Padang- Botung Busuk yang dikerjakan PT. Rajawali Citra Wahana Pasaman, dengan nilai kontrak Rp.2.069.869.000,- yang menggunakan APBD Pasaman tahun 2016 ini. Adanya penutupan jalan coran sepanjang 1,3 Km itu, karena meskipun belum ditempuh kendaraan , kini terlihat pada bagian permukaannya sudah mulai terlihat ada yang hancur, dan yang lainnya terkesan rapuh,jelas Boy sembari menggeleng gelengkan kepalanya.

Informasi yang dihimpun Koran ini, diketahui dari pengakuan salah seorang tukangnya. Menurut dia, dalam proses adukan corannya, dimana setiap adukan coran dalam satu molen penuh hanya menggunakan setengah zak semen. Coran tidak sesuai speck itu dilakukannya atas perintah kontraktornya. Ia juga mengakui, bila nantinya dilalui mobil pengangkut barang, dipastikan akan amblas, ungkapnya yang tak mau namanya disebut.(AMS)Bkin/Ovn03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *