Menindak Tegas Aktivasi Ilegal Akan Sia-sia Bila Jokowi.

 

Jakarta.Ovumnews.Com–Direktorat Bea dan Cukai Indonesia pada tahun 2010 telah menemukan penyelundupan narkotika dengan total 405,09 kilogram dengan nilai total 918,77 miliar, tentunya angka tersebut cukup memprihatinkan dan meresahkan masyarakat, mengingat narkoba dan obat-obat terlarang sangat berbahaya bagi kejiwaan dan kesehatan seseorang.

Negara dituntut lebih pintar, apalagi usaha untuk membegal para penyelundup tersebut dihadapi dengan perlawanan yang lebih licin dan pintar, bila kepolisian dan aparat penegak hukum santai-santai menghadapi kepintaran para penyelundup yang kian marak tersebut, bukan tidak mungkin negara akan lebih kacau dan keresahan terjadi di setiap sendi kehidupan negara Indonesia.

Keberhasilan untuk memberangus penyelundupan tidak serta merta harus dibebankan pada pemerintah sendiri, masyarakat yang di bawah pun harus saling bekerjasama demi membongkar semua barang-barang ilegal yang sudah semakin menggurita di seluruh wilayah, persoalannya kadang penjualan kaset dan VCD bajakan yang terdapat di pasar rakyat atau ditempat umum dibiarkan begitu saja oleh aparat kepolisian, sehingga ada opini dimasayarakat bahwa para polisi setempat sudah ‘dibayar’ oleh para pembajak tersebut.

Penyelundupan manusia juga sudah memasuki tingkat paling menghawatirkan, dengan dalih menjadi tenaga kerja di luar negri atau menjadikannya sebagai produk industri sesualitas.

Dalam hal ini penyebab utama banyaknya aksi penyelundupan manusia tidak serta merta disalahkan kepada masyarakatnya sendiri, akan tetapi lebih disebabkan tidak adanya lowongan pekerjaan di Indonesia, kemiskinan yang merajalela membuat masyarakat terdorong menjadi TKI di luar negri,

Seharusnya masalah-masalah ilegal perdagangan manusia bisa diantisipasi sejak dini oleh pemerintah, bila kemiskinan bisa dituntaskan, kesejahteraan terjadi dimana-mana dan lowongan pekerjaan begitu mudah di dapat, kemungkinan terjadinya ledakan penyelundupan manusia bisa diantisipasi lebih dini.

Tindak tegas aparat yang ikut bermain dan menjadi beking, tidak ada ampun. Saya ingin juga tidak ada kongkalikong lagi,” (Jokowi)

Namun penyelundupan barang elektronikpun sungguh mencemaskan, pada tahun 2015 ada 129 kasus penyelundupan barang elektroik ilegal dengan nilai tangkapan Rp74,67 miliar, Angka ini meningkat hampir 80 persen di bandingkan tahun-tahun sebelumnya,

Modus penyelundupan bisa beranekaragam, bisa pemalsuan administrasi dalam dokumen yang disana tercatat 32 Inci ketika kardus dibuka ternyata ukurannya jauh berbeda dari angka itu sendiri. Beberapa titik paling rawan terjadi di Lhokseumawe, Teluk nibuna, Dumai, Bengkalis, Jambi, Tembilahan.

Penyelundupan dalam perkayuan juga sangat mengerikan, Direktorat Bea dan Cukai Tanjungpriok menyebutkan pada tahun 2010 saja terjadi peningkatan signifikan terhadap upaya penyelundupan kayu ilegal yang telah mencapai Rp3,4 miliar.

Penyelundupan kayu secara ilegal masih menjadi hal paling menarik bagi para pelaku dengan modus memalsukan Administrasi yang tidak sesuai dengan laporan yang diberikan pada pengurus Bea dan Cukai. Cendana dan Gaharu untuk dijadikan bahan kosmetik dan Hio, atau Sonokeling yang dijadikan bahan furnitur bisa mencapai 300.000 perkg setiap bulannya.

Namun upaya menindak tegas terhadap aktivasi produk-produk ilegal dari Presiden Jokowi tentu harus diapresiasi, akan tetapi upaya tersebut akan sia-sia belaka tanpa adanya upaya antisipisi dari pemerintah untuk beberapa solusi seperti belum bisa mementaskan kemiskinan, sempirnya lowongan pekerjaan, tidakadanya kesadaran dan kerjasama dari masyarakat sendiri.(Sumber TP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *