Menyorot Pekerjaan PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa, Proyek Jalan Pasaman Lubuk Sikaping – Talu Sumbar Milik PUPR

 

Pasaman.ovumnews.com—Begilih dugaan lemahnya pengawsan dilapangan lihat saja Proyek pembangunan peningkatan jalan Provinsi pada pembangunan jalan Lubuk Sikaping – Talu dengan no kontrak 630/60/KTR-BM/2017,tertanggal 25 April 2017 yang dikerjakan oleh PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa dengan konsultan PT Multi Phi Beta di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ( PUPR ) Provinsi Sumatera Barat senilai Rp 6 Milyar lebih terus medapat sorotan tajam dan kritikan miring dari sejumlah LSM karena berdasarkan pantauan dan investigasi dari LSM banyak kejanggalan yang ditemukan dilapangan.

Ketua LSM Gerhana Kabupaten Pasaman Al Putra (Kamis 24/8) dilokasi proyek mengatakan bahwa proyek yang dikerjakan oleh PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa ini terlihat dikerjakan asal jadi dan diduga melabrak spesifikasi tehknis yang seharusnya, lihat saja ketebalan timbunan yang menggunakan material sirtukil, ketebalannya diragukan sesuai tehknis karena menurut Al Putra seharusnya ketebalan timbunan itu sekitar 30 cm nah disini sudah terindikasi volume timbunan sudah dimainkan, kemudian volume pekerjaan juga diduga tidak sesuai dengan jadwal pelaksanaan ( schedule ) karena berdasarkan informasi bobot pekerjaan belum mencapai 40 persen padahal proyek telah berjalan lebih dari 4 bulan , ini menandakan lemahnya pengawasan dari pihak Dinas PUPR.

Bahkan Al Putra menuding PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa menggunakan material ilegal karena menurut nya izin Quary yang ada di Pasaman berlokasi di Kecamatan Tigo Nagari sedangkan material yang digunakan dalam proyek ini berasal dari material sungai yang ada dikecamatan Lubuk Sikaping yang belum memiliki izin resmi dari pihak berwenang, nah ini jelas suatu pelanggaran apabila ini direstui oleh pihak Dinas PUPR maka patut diduga kuat telah terjadi kalaborasi yang handal antara rekanan dengan oknum oknum di Dinas PUPR untuk mengkorup uang negara demi kepentingan pribadi dengan mengabaikan mutu dan kualitas proyek.

Namun Ketua LSM Tipikor Kabupaten Pasaman Oyon Hendri dilokasi proyek meragukan ketebalan dan kepadatan timbunan yang menggunakan material sirtukil bercampur tanah ini sesuai dengan standarnya, kalau ketebalan timbunannnya dikurangi dan kepadatanya tidak sesuai standar maka diduga telah terjadi pengurangan volume , bayangkan saja kalau panjang jalan satu kilometer dengan lebar delapan meter di kali harga perkubik berapa volume timbunan yang dihilangkan, ini jelas jelas telah merugikan keuangan negara dengan modus pengurangan volume material,

Untuk itu pihak pengawas dari Dinas PUPR maupun PPTK nya harus melakukan tindakan tegas kalau tidak berarti diduga telah terjadi kerja sama antara pihak rekanan dengan oknum di Dinas PUPR untuk menguras uang rakyat dengan modus pengurangan volume material untuk kepentingan pribadi dan kelompok, jadi kerjakanlah proyek itu sesuai dengan spesifikasi yang tercantum dalam kontrak dan janganlah mencuri uang rakyat dengan memainkan item dan volume pekerjaan jelas Oyon Hendri.

Sementara itu antonius didampingi sejumlah pekerja yang ditemui dilokasi proyek yang mengaku sebagai pengawas pekerjaan dari PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa mengatakan bahwa panjang jalan yang dikerjakan nya ini sekitar 1,1 Km, soal bobot dan spesifikasi pekerjaan saya tidak tahu pak, lebih baik bapak tanyakan sama GS ( general Superintenden ) nya atau direkturnya nya pak ujar antonius.

GS PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa Tebrimal yang dikonfirmasi via handphonen nya ( kamis 24/8 ) mengatakngan bahwa bobot pekerjaan kita sampai saat ini sekitar 38 persen dan mengenai ketebalan timbunan jalan tersebut memang setinggi 30 cm , sedangkan material yang di gunakan, Tebrimal mengaku didatangkan dari material yang berasal dari Batang Pakau dan Batang Sumpur Lubuk Sikaping tapi kalau soal izin Quary saya tidak tahu tetapi material yang digunakan ini sudah kita informasikan kepada pihak Dinas PUPR tetapi untuk lebih jelasnya silahkan bapak, tanyakan sama direktur perusahaan nya yaitu Pak Abang.

Direktur PT Ananda Perdana Mandiri Perkasa Supnizar atau yang akrab dipanggil dengan Pak abang ini belum berhasil ditemui maupun dihubungi sedangkan Kabid Bina Marga Pak Dedi Rinaldi dan Kepala Dinas PUPR Sumbar Fhatol Bari selaku pengguna anggaran yang berkantor di Padang belum berhasil ditemui maupun dihubungi guna kepentingan konfirmasi Tim/ovn03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *