Meranti Siap Jadi Percontohan Pertanian di Provinsi Riau

 

Ovumnews.com- Meranti – Siapa yang menyangka, Kabupaten Kepulauan Meranti yang luasnya 3707.84 km2 dan dikelilingi laut serta pulau-pulau kecil, menjadi salah satu harapan negeri ini untuk mencapai kedaulatan pangan.

Dukungan dari pemerintah daerah dan pusat tidak main-main dalam mewujudkan semua itu. Terlihat dengan banyaknya program dan rencana pengembangan untuk lahan pertanian diarahkan ke Kabupaten Meranti.

Kepuluan Meranti siap menjadi lumbung pangan dan daerah percontohan pertanian di Provinsi Riau kedepannya. Hal ini di ungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Meranti, Yulian Norwis kepada awak media sigapnews.co.id beberapa waktu yang lalu.

Untuk menjemput keinginan itu, Meranti memang harus bertungkus lumus dengan berbagai terobosan dan kebijakan yang dibuat Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) untuk meningkatkan jumlah produksi petani. Sebab, kebutuhan beras masyarakat di Meranti setiap tahunnya diperkirakan mencapai 28.000 ton, sedangkan jumlah produksi para petani baru memenuhi 50 persen atau sekitar 13 ribu ton saja. Mau tak mau, kekurangan itu harus dipasok dari berbagai daerah seperti Jawa, dan Sumatera Barat.

Karena kebutuhan akan beras tersebut, Meranti terus mencoba memanfaatkan lahan subur yang terhampar luas ditambah beberapa daerah yang memiliki historis sebagai wilayah bercocok tanam masyarakat meski dalam jumlah terbatas. Hamparan sawah terluas terletak di Kecamatan Rangsang Barat dan Kecamatan Rangsang Pesisir.

Seluas 4.200 hektar lahan di dua kecamatan itu menunggu sentuhan petani, namun baru bisa digarap petani 1.500 hektar dengan total produksi 7000 ton gabah kering atau sekitar 5.500 ton beras. Di lahan tersebut, sejak musim tanam 2012 lalu Pemkab Meranti telah menerapkan pola dua kali tanam dalam satu tahun musim tanam.

Upaya Meranti menuju swasembada beras tidak hanya terfokus pada gerakan dua kali tanam di kawasan agropolitan tersebut, tapi juga melakukan optimalisasi luasan hamparan sawah di tiga kecamatan lainnya, seperti di Pulau Merbau, Kecamatan Merbau dan Kecamatan Tebingtinggi Timur. Di tiga kecamatan ini diperkirakan terhampar lebih kurang 3000 hektar lahan sawah yang nantinya siap digarap petani.

Tak sampai di situ, Pemkab Meranti juga akan mengembangkan kawasan sawah pasang surut yang selama ini masih awam di mata petani. Namun, nampaknya program ini harus disinergikan dengan Pemerintah Pusat. Kolaborasi program ekstensifikasi pertanian dan intensifikasi pertanian ini untuk menggenjot swasembada pangan di kabupaten terbungsu di Riau ini.

Gayung bersambut, Pemerintahan Jokowi nampaknya benar-benar serius untuk menggulirkan program swasembada pangan di Meranti. Tidak tanggung-tanggung untuk memenuhi target tersebut pemerintah menyiapakan berbagai strategi melalui program teknis lapangan dan telah disetujui DPR RI, Kementerian Pertanian mendapatkan kucuran dana yang sangat besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya melalui Upaya Khusus (Upsus).

Staf Ahli Menteri Pertanian RI, Ir Mukti Sardjono MSi, yang bertandang ke Meranti beberapa waktu yang lalu, lebih diarahkan pada pencapaian komoditas utama, yaitu swasembada Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) yang menjadi kebutuhan pangan utama masyarakat.

Pemerintah Pusat pun melakukan kegiatan operasional pencapaian swasembada pangan melalui pendekatan operasional.

Yakni, rehap jaringan irigasi, bantuan pupuk, bantuan benih, pengembangan sistim benih unggul, bantuan tractor R2 dan R4 untuk menunjang pra produksi dan alat-alat pertanian untuk mendukung pasca panen.

Upaya ini ditempuh pemerintah untuk mempercepat pengolahan tanah sehingga target/capaian tanam lebih cepat, selain itu dengan alat-alat tersebut akan menghemat pemakaian tenaga kerja.

Kolaborasi Pemkab Meranti dengan Pemerintah Pusat ini, kata Bupati Kepulauan Meranti H Irwan Nasir, diharapkan produksi gabah kering hasil panen akan naik tiga kali lipat. Ditargetkan musim tanam. Kabupaten Kepulauan Meranti bisa memproduksi 21 ribu ton gabah kering atau sekitar 17 ribu ton beras.

Pola intensifikasi ini dengan menggunakan bibit unggul, sistem pengairan dan program pasca panen serta optimalisasi lahan sawah di tiga kecamatan lainnya, Meranti bisa swasembada beras. Tentunya, besar harapan 2016 Kawasan Niaga Meranti bisa tumbuh menjadi daerah lumbung pangan di pesisir dengan pencapaian panen 30 ribu ton beras.

Komitmen Pemkab Kepulauan Meranti menuju swasembada pangan, secara teknis kata Kepala Dinas Pertanian Meranti, Yulian Norwis, tidak hanya terfokus pada gerakan dua kali tanam di kawasan agropolitan. Pemkab Kepulauan Meranti juga akan melakukan optimalisasi luasan hamparan sawah di tiga kecamatan lainnya, seperti di Pulau Merbau, Kecamatan Rangsang dan Kecamatan Tebingtinggi Timur. Di tiga kecamatan ini diperkirakan terhampar lebih 3000 hektar lahan sawah yang tak digarap petani.

Pemkab Meranti juga akan mengembangkan kawasan sawah pasang surut yang selama ini tidak tersentuh petani. Untuk mensinergikan program ini, Pemkab Kepulauan Meranti berupaya mendapatkan dukungan dari dana Pemerintah Pusat.

“Kolaborasi program ekstensifikasi pertanian dan intensifikasi pertanian akan kita genjot terus untuk swasembada pangan di Kabupaten Kepulauan Meranti,” ungkap Yulian yang biasa disapa Icut.

Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Kepulauan Meranti, memang tak kenal letih untuk menuju program kedaulatan pangan, pengembangan pembibitan padi inbrida atau padi rawa – Inpara mulai digesa.

Bibit unggul pad rawa ini tergolong “sakti”, dalam setahun bisa panen padi hingga dua kali sampai tiga kali. Dan ini akan dikembangkan di atas lahan seluas 3 hektar. Panen dengan bibit padi inpara ini paling lama hanya 110 hari. Makanya dengan bibit inpara tersebut nantinya diharapkan dapat meningkatkan hasil panen para petani padi. Dengan demikian secara bertahap hasil beras di Kepulauan Meranti bisa lebih banyak lagi.

Jurus lainnya yang dilakukan DPPTP Meranti dalam menggapai kedaulatan pangan, akan mengambangkan padi organik di atas lahan seluas 100 hektar di Desa Penyagun, Kecamatan Rangsang. Program tersebut diharapkan dapat menjadi pilot project bagi pengembangan padi organik selanjutnya. Untuk itu, kelompok tani harus menyediakan lahan yang cukup, jika sudah ada DPPTP siap untuk segera merealisasikannya. Jika ini terwujud, panen padi sebanyak 3 kali dalam setahun.

Pelaksanaan program padi organik ini, kata Icut, sudah include dengan sejumlah program lainnya, seperti pupuk, bibit unggul dan pengairan di lahan pertanian. Makanya ditargetkan nantinya bisa menambah produksi beras di desa itu.

Target yang hendak dicapai dengan padi organik di Desa Pengayun ini, bisa menghasilkan beras di atas 5 ton. Kalau sudah demikian, tentu warga desa lebih bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras di Kepulauan Meranti.

Program padi organik ini, kata Icut membuka rahasia, juga merupakan kolaborasi dari program Pemerintah Pusat. Program itu diharapkannya dapat terus meningkatkan produksi beras Kepulauan Meranti. Sehingga nantinya daerah ini tidak perlu lagi mendatangkan beras dari luar daerah.

Dengan program ini, petani dapat menginventarisir lahan yang bisa dijadikan lahan pertanian padi tersebut. Sehingga nantinya bisa diusulkan untuk disertifikatkan melalui program nasional (Prona).

Sekarang tinggal bagaimana komitmen para petani untuk menjalankan program padi organik. Sebab, program cetak sawah, bersama dengan bibit unggul, pupuk, alat penyemprot hama, dan peralatan pendukung terus diupayakan dari pemerintah pusat. Jika seluruh petani berkomitmen, maka untuk bisa swasembada beras tidak akan sulit dicapai.

Karenanya DPPKP Kepulauan Meranti optimis, jika program ini tercapai setiap tahun hasil panen padi bisa terus meningkat dan menghasilkan beras yang baik.

“Kita menargetkan jumlah beras yang dihasilkan seperti lingkaran anti nyamuk, minimal bisa memenuhi kebutuhan di desa yang menanam padi dan setiap tahun terus bertambah mencukupi kebutuan beras desa tetangga dan akhirnya memenuhi kebutuhan di wilayah Kepulauan Meranti,” ungkap Icut.

Meskipun sejumlah program menuju swasembada pangan belum begitu opimal dilakukan Pemkab Meranti, namun warga Desa Batang Meranti, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, sudah merasakan hasilnya dengan menggelar syukuran panen padi perdana. Panen ini merupakan desa ke empat di Kabupaten Kepulauan Meranti setelah sebelumnya panen padi di Desa Teluksamak, Penyagun, dan Segomeng.

“Kita benar-benar ingin membangun pertanian sesuai sentra dan potensi yang ada, dengan begini nantinya untuk reward di Desa Batang Meranti ini, kita akan bantu kembangkan lahan seluas 76 hektar tanaman padi lagi,” kata Icut ..Hs/ovn 03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *