Mimpi-Mimpi Tinggallah Mimpi. PLTMH Siap, Kabel Beli Sendiri

2 FOTO PLTMH Muaro Tais, 3 Kecamatan Mapat Tunggul
 

Pasaman. Mapattulnggul.Ovumnews.com–Impian warga Nagari Muaro Tais, Kecamatan Mapat Tunggul tampaknya masih sebatas mimpi.

Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH) yang sudah selesai pengerjannya sejak bulan lalu, hingga kini belum bisa dinikmati warga. Pasalnya, untuk mendapatkan aliran listrik, warga mesti membeli sendiri kabel untuk ke rumah mereka.

Pembangunan Proyek PLTMH di Nagari Muaro Tais, pada awalnya diharapkan bisa mewujudkan mimpi masyarakat daerah terpencil itu. Sejak awal dikerjakan, masyarakat mendukung sepenuhnya dan berharap bisa cepat selesai.

Namun kini mimpi tinggallah mimpi, karena masyarakat kembali dihadapkan dengan kondisi sulit, yakni harus mengeluarkan biaya untuk membeli kabel listrik.
“Kalau harus beli kabel sendiri, masyarakat tidak akan sanggup. Saya sudah hitung, jarak terdekat dari titik api PLTMH ke rumah saya sekitar 300 meter.

Nah jika harga kabel standar yang warna hitam itu Rp.8.000/Mter dikali 300 m berarti uangnya Rp.240.000,- belum lagi tiang dan perangkat kecil lainnya yang belum bisa dihitung, termasuk upah. Bisa-bisa untuk sampai listrik ke rumah, kami harus mengeluarkan biaya satu juta rupiah.

Dengan kondisi ekonomi masyarakat semakin parah sejak satu tahun terakhir, jumlah tersebut sangat mustahil rasanya bagi kami,” keluh Isap, warga Muaro Tais kepada Media ini, Rabu (12/4).
Memang, sejak beralihnya pemerintahan Kabupaten Pasaman kepada Bupati Yusuf Lubis dan Wabup Atos Pratama, dari awal 2016 lalu, hampir di seluruh penjuru Pasaman nyaring terdengar keluh kesah masyarakat.

Keadaan yang berlaku yang berada dibawah kewenangan Pemkab Pasaman, situasinya banyak yang tidak beraturan, malah terkesan bertele-tele. Kondisi ini jelas membuat masyarakat Pasaman semakin terpuruk.

“Setahu saya, di nagari lain yang sudah duluan mendapat listrik PLTMH, seperti di Nagari Silayang, kabel listrik langsung direntang ke rumah-rumah warga yang difasilitasi oleh pemerintah.

Namun kini terbalik, masyarakatlah yang dibebani untuk anggaran beli kabel. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Saya yakin, selama empat tahun kedepan kondisinya akan semakin parah,” ujar petani miskin itu pesimis.

Dari pantauan awak Media ini, Selasa (11/4) kemaren, terlihat pembangunan physic PLTMH Nagari Muaro Tais sudah final dan rampung. Hasil uji coba yang dilakukan pihak proyek bersama masyarakat, pembangkit listrik tenaga air tersebut sudah hidup sebagaimana mestinya. Ketika itu masyarakat bertepuk dan bersorak gembira.

Mereka membayangkan tidak lama lagi rumah mereka akan terang benderang. Namun apa daya, ketika mengetahui bahwa kabel harus dibeli secara swadaya, maka saat itu pulalah masyarakat harus meneguk kembali air ludahnya yang pahit, karena kecewa berat. Surya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *