Musim Kemarau Yang Tidak Bisa Dielakan

 

Palembang Ovumnews–Musim kemarau sekitar kita yang tidak bisa dielakan sebuah bencana tahunan.bencana tahunannya adalah banjir. Beda lagi dengan daerah-daerah di Sumatera terutama Sumsel, Jambi dan Riau dan dimana-mana . Bencana tahunannya adalah kabut asap. Iya, kabut asap.
Anda mungkin bisa bayangkan bagaimana kabut asap menyelimuti daerah kami sepanjang waktu. Mulai dari pagi hingga pagi lagi, bahkan di tengah hari pun pandangan terbatas, gedung-gedung yang tak setinggi menara-menara pencakar langit di Jakarta saja puncaknya tidak terlihat karena tertutup asap. Mungkin, patut disebut daerah kami ini sebagai negeri di balik awan, atau negeri di balik asap.
Musim kemarau atau lebih tepatnya lagi, kemarau jadi kambing hitam dari kabut asap ini. Tapi apakah benar penyebabnya musim kemarau yang gersang sehingga api mudah tersulut ke setiap materi yang sudah mengering? Setahu saya, negeri kita ini memang cuma mengenal dua musim, penghujan dan kemarau. Sejak dahulu memang sudah seperti itu. Musim kemarau waktunya petani membersihkan lahan dan bersiap menunggu musim penghujan untuk selanjutnya menyemai benih. Tapi apakah dahulu kabut asap separah ini? Rasanya tidak. Jadi pertanyaannya, layakkah kita menyalahkan kemarau?
Bencana kabut asap yang menyesakan dada ini. Jangan-jangan ada pihak-pihak yang sengaja membiarkan bahkan menyulut si jago merah untuk melahap semua hutan-hutan dan rawa-rawa kita untuk suatu kepentingan. Berapa besar dana yang disiapkan untuk penanggulangan kabut asap setiap tahunnya? Penyediaan air, garam, transportasi udara untuk menyiram dan merekayasa hujan buatan, belum dana operasionalnya yang melibatkan banyak orang. Kasus pembalakan hutan secara liar juga terus terjadi, jangan-jangan kebakaran hutan hanya kamuflase para mafia kayu.
Bencana kabut asap pun patut dicurigai. Titik poinnya adalah, selamatkan anak-anak kami yang setiap hari menghirup udara berdebu dan penuh asap, bagaimana mereka akan sehat dan pintar kalau konsumsinya setiap hari asap dan asap. Tak perlu mereka membeli rokok sebab rokok alami dari kebakaran hutan dan lahan gambut sudah cukup merusak paru-paru mereka. Di desa-desa tak hanya asap tapi juga debu jalanan yang belum diaspal membuat kuning baju anak-anak kami yang pergi ke sekolah. Mobil-mobil perusahaan -perkebunan sawit, peternakan ayam- yang tak kenal perikemanusiaan melaju kencang meninggalkan debu yang beterbangan, (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *