Pengelolaan Hutan Pinus Dipertanyakan

 

Pasaman.Ovumnews.com— Mempertanyakan legalitas pengelolaan ratusan hektare hutan pinus oleh enam warga setempat,puluhan Warga Abam, Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, temui bupati dan wakil bupati setempat, Rabu (5/4).

Pasalnya, bermunculan klaim sejumlah warga setempat mengaku telah mengantongi izin lokasi untuk melakukan penyadapan ratusan ribu pohon pinus, pasca berakhirnya kewenangan pihak PT Inhutani sebagai pengelola hutan pinus di daerah itu.

Bupati Pasaman Yusuf Lubis, Turut hadir, beserta wakilnya Atos Pratama, Asisten Pemerintahan Dalisman, Asisten Kesra M.N Soesilo, Kepala Kesbangpol Afridansyah, Kabag Humas Eri Hermawan, Kasat Intelkam AKP Asror.

Perwakilan warga Abam, Sukirman menyampaikan, kedatangan puluhan warga setempat untuk meminta bupati menghentikan klaim sepihak pengelolaan hutan pinus dan monopoli harga getah pinus oleh oknum warga tersebut.

Kita inginnya itu dihentikan. Enam warga mengklaim punya izin lokasi sehingga bentrok dengan warga. Padahal, kami tahu hanya satu orang yang bermain disitu, selebihnya topeng,” katanya.

Ia pun membeberkan, bahwa kepala jorong setempat (Abam), yang bermain dan mengatur pengelolaan ratusan hektare hutan pinus itu. Akibatnya, kata dia, warga yang bekerja menyadap getah setiap hari merasa dirugikan.

Getah pinus yang disadap hanya dihargai sebesar Rp5 ribu per kg kepada petani selaku buruh. Tapi nyatanya, harga jualnya tinggi pak,” katanya.
Warga pun meminta pemkab segera menindaklanjuti izin yang dipegang karena semena-mena terhadap petani.

Janjinya, pihak perusahaan menyumbangkan Rp250 per kg dalam setiap penjualan getah pinus kepada masyarakat setempat untuk pembangunan masjid,” ujar warga.
Mereka pun meminta, agar harga getah pinus disesuaikan dengan harga pasar. Pasalnya, kata dia, sebanyak 80 an warga setiap hari menggantikan nasibnya dari menyadap pinus.

Harga harus sesuai dengan harga pasar. Demikian pula sumbangan untuk kampung harus direalisasikan. Kami yang datang adalah sebagai pekerja. Sebanyak 80 orang warga bekerja menyadap getah pinus dihutan itu setiap hari,” katanya.

Salah seorang warga, Safril mengatakan dulu hutan pinus yang terdapat disepanjang jalan Rao-Rumbai itu dikelola oleh PT Inhutani. Setelah itu berakhir, baru dikelola sepihak oleh beberapa orang warga masyarakat.

Ada enam orang warga kami, mengaku punya izin kelola dari perusahaan yang kami tidak ketahui identitasnya, yakni Longkei, zulkarnaien, cili, kulul Asmi, Nasrun dan safran sebagai pemegang izin lokasi perkebunan,” katanya.
Setelah dikroscek, kata dia, ternyata sebanyak lima orang warga selain Safwan mengaku tidak tahu menahu soal kepemilikan izin itu.

Bupati Pasaman, Yusuf Lubis mengatakan, masyarakat ingin tahu siapa pemilik lahan itu sebenarnya, termasuk meminta kejelasan sumbangan sebesar Rp250 per kilogramnya belum realisasikan kepada warga.

Kita akan mencari tahu, luas area tanam hutan pinus di wilayah itu berapa. Termasuk legalitas perizinan yang dikantongi pihak terkait,” katanya.
Wabup meminta masyarakat tetap tenang dan menjaga kondusifitas. Selain itu, ia juga meminta masyarakat harus tetap bekerja dan menghindari pertikaian yang berpotensi menimbulkan konflik.

Kita, pemerintah akan mempelajari terlebih dahulu, siapa pemegang izinnya, berapa luas hamparannya. Setelah itu baru pemerintah bisa mengambil action,” ucap bupati.
Walinagari Lubuk Layang, Ermin mengakui bahwa pengelola ratusan hektar hutan pinus di nagari itu sudah berpindah tangan, dari sebelumnya PT Inhutani kepihak lain.ovn03.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *