Presiden Joko Widodo Maafkan Muhammad Arsyad

 

JAKARTA Ovumnews.com–Terkait masalah dugaan pengihinaan kepala Negara,Presiden Joko Widodo telah memaafkan perbuatan Muhammad Arsyad (MA), seorang tukang tusuk sate yang menjadi tersangka kasus penghinaan dan penyebaran gambar tak senonoh melalui sosial media Facebook.
Kendati telah memaafkan, mantan Walikota Solo ini tetap mengingatkan MA dan lainnya agar tetap berhati-hati dalam bersikap di tengah publik.Di era yang bebas seperti ini semuanya harus saling menghormti hak orang lain termasuk juga aturan hukum yang ada, siapapun itu,” ujar Presiden Istana Negara, Sabtu (1/11).
Pesan tersebut disampaikan presiden Jokowi kepada orang tua MA saat menemuinya di Istana negara.Seperti diketahui, orang tua MA, Mursidah dan Syafrudin memohon agar anaknya dimaafkan Presiden Jokowi. Presiden pun bersedia menerima kedua orang tua MA sekaligus memaafkannya.
“Bapak Ibu nanti disampaikan ke putranya Muhammad Aryad agar lebih hati-hati dalam bertindak. Apapun semuanya agar tetap berhati-hati,” pesan Jokowi.Dikatakan Presiden, bahwa MA dapat mengecap kebebasan sebab polisi di Mabes Polri menangguhkan tahanannya. Namun tentang proses hukum, diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
“Saya kemarin baru tahu soal ini. Besoklah penangguhannya, akan segera keluar dan bertemu. Kalau saya 100 persen maafkan,” imbuh Presiden.

Kasus ini dilaporkan tim hukum kampanye Jokowi-Jusuf Kalla ke Kepolisian Republik Indonesia pada akhir Juli 2014 lalu. Kepolisian menahan dan menjerat Arsyad dengan tuduhan berlapis, yaitu pasal pornografi dan pencemaran nama baik.
Direktur Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Kamil Razak menjelaskan Arsyad juga dijerat serangkaian pasal dalam UU Informasi dan transaksi elektronik.
“Jadi pasal utamanya adalah pornografi. Karena dia membuat, menyebarkan, memperbanyak gambar-gambar pornografi,” ujarnya.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar
mengatakan, penangkapan ini juga dilakukan setelah ada laporan dari pengacara sekaligus politisi PDIP, Hendri Yosodiningrat.
“Ini kan sesuatu pembelajaran hukum yang patut dipahami oleh semua warga negara bahwa penggunaan media sosial itu dilandaskan pada aturan-aturan hukum ,norma, etika yang harus dipatuhi oleh semua warga negara. Jadi ini sangat memberikan manfaat bagus bagi kita semua untuk tidak sembarang menggunakan media sosial karena ini sudah diatur oleh hukum di negara kita,” ujarnya.
Ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar mengatakan, meski Presiden sudah memaafkan Arsyad, namun proses hukum tetap berjalan dan Presiden tidak bisa mengintervensi hal itu. Unsur pemaafan dari Presiden itu nantinya, menurut Abdul, akan menjadi salah satu hal yang meringankan dari vonis hakim.
“Di satu sisi kejadian ini harus tetap diproses secara hukum. Supaya orang tidak gampang menggunakan dunia maya itu untuk mencaci maki, menghina dan mencemarkan nama baik orang. Nah, bahwa nanti hakim mempertimbangkan permaafan Presiden itu menjadi hal yang meringankan bagi si pelaku, monggo silahkan. Itu ada di ranah peradilan,” ujarnya.
Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan bahwa tindakan Arsyad yang memasang foto seronok Presiden Jokowi dan Megawati di jejaring sosial memang tidak dapat dibenarkan.
Meski demikian, Natalius menilai tindakan penangkapan, penuntutan terhadap pembantu tukang sate itu tidak diperlukan.

“Posisi hari ini seharusnya sudah sepatutnya memberi maaf kepada yang bersangkutan jadi tidak perlu dibawa sampai titik akhir proses hukum keputusan di pengadilan. Kalau tidak dimaafkan nanti cenderung dianggap sebagai pemerintah pendendam justru tidak boleh. Pemerintah kan berkuasa (Ovn07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *