Proyek BWSS V Pekerjaan Embung Batang Singon Maek, Milik Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Terhenti

 

Kepri Auditpos. Lima Puluh Kota- Balai Wilayah Sungai Sumatera V ( BWSS V) dibawah Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat, agaknya terkesan tutup mata, terkait mangkraknya serta dugaan Labraknya UU Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas proyek Embung Batang Singon, di jorong Sopan Tanah Maek Kecamatan Bukit Barisan Kabupaten Lima Puluh Kota, sejak akhir Mei 2018 lalu.

Pasalnya, berdasarkan investigasi media, pasca terhentinya pekerjaan pembangunan Embung Batang Singon, dikironyo Sopan Tanah Nagari Maek Kecamatan Bulutangkis Barisan Kabupaten Lima Puluh Kota oleh pihak BWSS V, oleh Kepala Satker, Ali Rahmad dituduh kepada perusahaan rental ( sewa- red), PT. Barindo Prima Agung, dari Banda Aceh oleh rekanan Padang, H.Boy, dengan kontrak bernilai Rp.8.726.562.000, sejak Januari 2018, kini masyarakat setempat dibuat kecewa dan kesal.

Hingga detik ini berdasarkan keterangan sumber, kondisi dilapangan masyarakat setempat kecewa serta kesal, menyaksikan kondisi alam serta peladangan mereka diseputaran lokasi pekerjaan rencana Embung di alur sungai Batang Singon, jorong Sopan Tanah Nagari Maek, berantakan pasca, penambangan material Batu Sungai, pasca adanya protes masyarakat.

Berdasarkan investigasi media, dilapangan, terhentinya pekerjaan Embung Batang Maek, di jorong Sopan Tanah Nagari Maek tersebut, hal tersebut disebabkan adanya protes sebagian masyarakat peduli lingkungan, telah terjadi pelanggaran UU Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang tengah dilakukan rekanan PT.BPA dari Banda Aceh, konon dirental oleh H.Boy, lakukan penambangan secara Ilegal Batu Sungai diseputaran lokasi proyek Embung tersebut, dituduhkan ” Adu Domba”, diantara warga satu kaum dalam suku Kampai, anak Kamanakan Dt. Mangkuto Sibe, pemilik lahan Ulayat setempat.

Dari kiat busuk yang telah dilakukan, H.Boy Cs, guna dapatkan 7000 M3 material Batu untuk pekerjaan Embung tersebut, ternyata berdampak telah terjadi perkelahian antara dua kubu anak Kemanakan Dt. Mangkuto Sibe yang bermuara ke ranah hukum dan kasusnya diproses di Polsek Suliki.

Menurut Kapolsek Suliki, Lettu Pol. Syaiful, seperti yang dipaparkan tokoh masyarakat setempat, mengaku Anton, telah terjadinya perkelahian antara dua pihak masih dalam satu kaum Suku Kampai setempat, ditenggarai akibat adanya penambangan liar dari rekanan proyek Embung tersebut”, demikian tiru Anton.

Menurut Anton, pihak membantah bahwa adanya upaya pengalihan opini yang telah dilakukan H.Boy, bahwa pihak tidak bisa bekerja disebabkan adanya gugatan masyarakat atas ganti ruginya lahan proyek Embung Batang Singon, di jorong Sopan Tanah Maek tersebut.

Yang pasti, rekanan H. Boy, berpotensi dipidanakan itu, karena selain dituduh telah lakukan penambangan liar material Batu diseputaran alur Batang Singon tersebut dan berdampak berantakan tanaman masyarakat serta dikhawatirkan terjadi bencana, tentunya Labraknya UU Lingkungan Hidup dan Kehutanan, agar diusut pihak berkompeten, demikian pintanya.

Terkait kekecewaan serta kekesalan masyarakat, khususnya kaum Suku Kampai di jorong Sopan Tanah Nagari Maek Kecamatan Bukit Barisan Kabupaten Lima Puluh Kota, Satker BWSS V.

Ali Rahmat, yang berhasil dikonfirmasikan lewat Jaringan pribadi via WhatsApp oleh Wartawan terkait proyek Embung Batang Singon Sopan Tanah, di nagari Maek Kec. Bukit Barisan Kab. Lima Puluh Kota TA 2018 yang dikerjakan PT.Barindo Prima Agung- Banda Aceh dgn Kontrak Rp.8.726.562.000 sejak Januari 2018.

Ternyata dibawa oleh rekanan Padang, H.Boy, berdasarkan investigasi kami sejak seminggu sebelum puasa berhenti bekerja. Hal tersebut disebabkan rekanan lakukan penambangan liar, mengambil material Batu pada alur sungai ( diatas pekerjaan Bendungan yang dikerjakan) mendapat protes warga yg dikhawatirkan berdampak rusaknya kebun/ ladang masyarakat.

Pihak rekananpun lantas diduga tetap ngotot dgn benturkan dua kelompok ( pro dan kontra) dalam satu kaum Suku Kampai pemilik lahan. Sehingga terjadinya perkelahian dan bermuara keranah hukum, hanya menjawab enteng, ” Terimakasih atas informasinya dan kami segera tindaklanjuti”, demikian kilah Ali.

Anehnya, ketika wartawan memancing, apakah pekerjaan proyek Embung Batang Singon, yang diketahui hingga detik ini tidak terlihat tanda-tanda dilanjutkan, Ali Rahmat dengan tegas, ” bahwa proyek tetap dilanjutkan”, demikian yakinnya.

Dilain pihak, H.Boy, selaku penanggung jawab, konon perusahaan rental PT.BPA, hingga berita ini berusaha dimintakan tanggapannya, atas terhentinya pekerjaan Embung Batang Singon, juga tuduhan telah lakukan perusakan lingkungan pada alur Sungai setempat, hingga berita ini belum berhasil. EB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *