Proyek Pelabuhan Kepri Habiskan APBN Rp 121 Miliar Minta BPKP Mengaudit

 

Kepri.Anambas.Ovumnews.com—Hampir semua Proyek pembangunan pelabuhan di Kepulauan Riau diduga bermasalah. Celakanya, pembangunan itu menggunakan Anggaran Pendapat dan Belanja Negara yang menghabiskan anggaran APBN senilai Rp 121 miliar tersebut, kini terbengkalai begitu saja

Dinding kaca yang bolong-bolong. Sementara halamannya tumbuh subur ilalang. cat sudah mulai mengelupas, beton yang ditopang besi-besi juga keropos, atapnya copot, sebagian plafon sudah ambruk dan berserakan dilantai yang kotor.

Tak ada kapal yang merapat di pelabuhan ini. Aktivitas seperti hilir mudik pegawai dan buruh pelabuhan pun tak terlihat. Beberapa warga hanya memanfaatkan kawasan ini untuk tempat memancing ikan.

Seorang warga bernama Edi mengatakan, pelabuhan itu sudah seperti rumah hantu. Kata dia, bangunan banyak yang hancur, berserakan tanpa ada petugas yang membersihkan.
Ia pun menyayangkan bangunan itu menyerap anggaran miliaran itu hancur begitu saja.

Ia menilai pemerintah daerah tutup mata dengan hancurnya sejumlah banguan pelabuhan itu.Ini aset puluhan miliar tidak ada yang jaga sehingga hancur begitu saja.
Sayangnya, aparat penegak hukum di Kepulauan Riau terkesan acuh.

Jangankan penyidikan, penyelidikan hingga kini pun belum terdengar. Beberapa kali dikonfirmasi, jajaran Kejaksaan Tinggi Kepri bungkam.

Hampir semua pembangunan pelabuhan yang menggunakan anggaran APBN bermasalah di Kepri,” ujar Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Tanjungpinang, Rajuman Sibarani kepada wartawan Selasa (11/6/2017).

Pelabuhan yang bermasalah tersebut diantaranya, pelabuhan Dompak. Di sana uang negara habis Rp 121 miliar. Masa pengerjaan pelabuhan sudah sejak tahun 2010 lalu. Hingga kini belum beroperasi.

Pembangunan pelabuhan itu pun mangkrak selama dua tahun. Bahkan sejumlah fasilitas pelabuhan sudah rusak.

Uang negara itu, saya akan surati BPKP untuk mengaudit anggaran pembangunan yang lama, jika saya yang menjutkan pekerjaan kedepannya,” jelasnya.

Pelabuhan itu kini mengenaskan. Plafon bangunan pelabuhan copot, kaca hancur, dan kontak listrik sudah tak berfungsi.Dari jalannya saja benar apa tidak itu, banyak temuan tapi segaja ditutupi selama ini,” ujarnya.

Sibarani mengatakan pelabuhan yang dibangun di Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan Kepri hingga kini belum juga bisa beroperasi. Penyebabnya alur laut yang masih dangkal sehingga tak menghalangi kapal merapat ke ponton.

Sibarani menambahkan ,pembangunan proyek tersebut menelan anggaran puluhan miliar dari dana APBN. Sibarani pun kini harus berhati-hati melanjutkan proyek yang tak jelas tersebut.

Nanti sebelum melajutkan pekerjaannya saya minta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengaudit dulu sebelum saya kerjakan, mana batas yang harus saya kerjakan,” ucap dia.

Ia melanjutkan, dalam pekerjaan proyek itu banyak temuan-temuan permasalahan, namun segaja di tutup-tutupkan selama ini. Katanya dirinya medapatkan warisan yang tidak enak dari kepala KSOP yang sebelumnya.

Saya akan panggil PPTK nya, untuk menanyakan permasalahan ini, dia harus bertanggung jawab lah, mana buktinya” ujarnya.

Kemudian Ia mengatakan terkait permasalahan pemabangunan pelabuhan itu pihaknya tidak tahu berapa anggaran yang dihabis kan. “Masak saya yang mempertanggung jawab semua warisan bermasalah ini,” ujar dia.

Pelabuhan di Tanjung Balai Karimun juga bermasalah,” ujar dia.
Diketahui jumlah anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat dalam tahap pertama hingga merampungkan pelabuhan itu pada tahun 2010-214 senilai Rp 52,9 miliar.Hasmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *