Proyek Pengaman Jalan Nasional Sumatra Barat Diduga Asal Jadi

 

Padang Ovumnews.com—Beginilah bentuk pengaman jalan yang dikerjakan salah satu pemenang proyek tahun 2014 yang diduga asal jadi sudah tidak rahasia umum lagi dugaan untuk mengaet uang rakyat proyek yang jauh jangkauan dari masyarakat banyak.

Mmeski telah berulang kali Satker LLAJ Provinsi Sumatera Barat, Wandri tak kunjung bisa ditemui , Bahkan sang Satker terkesan jarang masuk kantor.,ketika wartawan koran ini beberapa kali kantornya di Jalan Kuini Padang Baru Kota Padang. Ironisnya, jawaban yang sama selalu dilontarkan oleh sang staf, “Pak Wandri sedang keluar, tadi dia masuk,

Wandri merupakan Kasi Perkeretaapian yang dipercaya sebagai Satker LLAJ Provinsi Sumatera Barat yang mengelola dana APBN di Lingkungan Dinas Perhubungan dan Kominfo Provinsi Sumatera Barat. Sebelumnya Satker tersebut dipegang oleh Anto Ambon yang telah menghadap sang khalik setahun lalu.

Wandri terbilang baru jadi Satker LLAJ Provinsi Sumatera Barat, namun sepak terjang Wandri ini terkesan melebihi Kepala Bidang LLAD dan Perkeretaapian Dishub Kominfo Sumbar yakni Juharson. Padahal Juharson merupakan “Induk Semang” dari Wandri. Bahkan Juharson sendiri sangat mudah dijumpai di kantornya ketimbang Wandri yang hanya seorang Kasi Perkeretaapian.

Lantas, bagaimana tanggapan Juharson dan Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo Provinsi Sumatera Barat terhadap kurenah Kasi Perkeretaapian ini? Ataukah terjadi pembiaran terhadap Wandri meski terindikasi jarang masuk kantor? Ikwal tersebut bermula ketika wartawan koran ini hendak mengkonfirmasikan hasil investigasi di lapangan terkait Pengadaan dan Pemasangan perlengkapan jalan pada ruas Jalan Nasional Lubuk Selasih – Batas Jambi(Kerinci).

Sebab, berdasarkan temuan Tim Ovumnews.com di lapangan terlihat beberapa Deliniator di Ruas Jalan Nasional Lubuk Selasih – Batas Jambi(Kerinci) dibeberapa titik sudah ada yang tumbang. Begitu juga dengan pemasangan Guard Drill dibeberapa titik masih ada yang belum terpasang.

Pantauan koran ini telah terjadi indikasi pengurangan volume pekerjaan terhadap pemasangan Deliniator dan tidak profesionalnya rekanan yang dimenangkan oleh Satker, sehingga mengakibatkan dibeberapa titik pemasangan Guard Drill tidak selesai.

Pekerjaan dilaksanakan oleh PT. Daka Megaperkasa beralamat di MUC Building Lantai 4, Jl. TB. Simatupang No. 15 Jagakarsa, Jakarta Selatan dengan nilai penawaran Rp. 4.379.380.000,00 kuat indikasi adanya dugaan kongkalingkong dengan Satker dan tim PHO. Sebab, kalau tidak ada indikasi-indikasi tersebut tentunya sang Satker akan menanggapi persoalan ini dengan persuasif.

Seperti pemberitaan Koran local bersama tim menemukan pemasangan Deliniator yang baru siap dipasang sudah banyak yang tumbang. Salah satunya hal tersebut terlihat pada ruas jalan nasional yang berada di Muaralabuh – Padang Aro Kabupaten Solok Selatan dan ruas Jalan Nasional di Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok.

Dugaan pengurangan volume pekerjaan yang berpotensi terjadinya indikasi korupsi tersebut diakibatkan kontraktor terkesan menghilangkan kontruksi pemasangan Deliniator, sehingga pada Deliniator tersebut hanya terdapat hasil adukan pada permukaan atas (topi) dari kontruksi. Namun, pada bagian bawah dari Deliniator tidak ada pengecoran yang dilakukan, sehingga Deliniator yang siap dipasang tersebut satu persatu sudah mulai tumbang. Bukan itu saja kejanggalan yang terlihat, penggunaan tahun anggaran proyek juga tidak ditempel pada Deliniator semisal “APBN 2014. Ovn03.

Hari Pers nasional Kepri 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *