Proyek Peningkatan Jalan Lapen Maligi – Sasak Berpotensi Korupsi thn 2016

 

Pasaman Barat .Ovumnews.com–Sekelebat kasus dugaan korupsi yang menyelimuti Dinas PU Pasaman Barat beberapa tahun lalu, nampaknya tidak menjadikan sebuah pelajaran bagi oknum pejabat yang ada di Instansi yang terkenal “basah” ini.

Ironisnya, oknum –oknum yang dipercaya sebagai PPTK dan KPA terkesan tetap cuek, meski kegiatannya yang dipercayakan kepada pihak ketiga terindikasi tidak bermutu, namun tetap di PHO 100%. Tentunya, hal tersebut menjadi tanda tanya bagi masyarakat, kok bisa demikian? Ataukah telah ada bagi-bagi hasil pekerjaan sehingga terkesan enggan untuk menegur kontraktor pelaksana kendati pekerjaan yang dilaksanakan melabrak kontrak kerja.

Hal tersebut diduga terjadi pada peningkatan perbaikan jalan dari Maligi ke Sasak Kecamatan Sasak Ranah Pasisie yang bersumber dari dana bantuan keuangan yang bersifat khusus dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tahun 2015.

Buktinya, ketika wartawan media ini meninjau lokasi proyek yang bernomor kontrak 602/145/KONTRAK/BM/DPU-2016 yang dikerjakan oleh CV. Restu Mama Abdi Sarana ini, dalam pelaksanaannya terindikasi tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.

Ironisnya lagi, pekerjaan jalan yang menggunakan Lapisan Penetrasi (Lapen) ini, tahapan pekerjaan yang dilaksanakan juga terindikasi tidak mengacu kontrak kerja. Parahnya, proyek senilai Rp. 961.222.000 yang dilaksanakan oleh Ujang Maran, kondisinya kini sangat memprihatinkan.

Berdasarkan hasil investigasi media ini Kamis (19/1) dilokasi proyek terlihat perbandingan spesi/adukan yang diterapkan dalam kontrak kerja untuk passangan batu 1:4 yang juga diutarakan PPK ternyata tidak terbukti dilokasi proyek.

Sebab, hasil pekerjaan batu untuk penahan badan jalan tersebut di beberapa titik ditemukan sudah hancur, sementara tingkat kepadatan arus lalu lintas bisa dikatakan sangat minim sekali.

Tentunya, fakta lapangan tersebut membuktikan bahwasanya adukan/spesi untuk pasangan batu itu tidak sesuai dengan kontrak kerja dan sangat diragukan mutunya.
Bukan itu saja trik curang yang dilakukan oleh kontraktor pelaksana untuk meraup keuntungan. Fakta lain juga terungkap pada item pengaspalan curah yang terindikasi tidak memenuhi teknis pekerjaan Lapen.

Buktinya, kontraktor pelaksana terindikasi sengaja mencampur material batu pecah (split) dengan kerikil bulat untuk menekan harga serendah mungkin. Namun, ibarat sepandai pandainya tupai melompat, sesekali pasti jatuh juga”.

Kini, perbuatan curang itu diduga terbukti, karena sepanjang kurang lebih 4 meter pekerjaan jalan Lapen tersebut sudah mulai mengelupas, semua tahapan lapisan yang dibuat terlihat sangat jelas dan menunjukan kuatnya indikasi “maling volume”.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Basrial yang ditemui dikantornya Jum’at (20/1) terkesan membela kontraktor pelaksana. Bahkan, tanpa rasa bersalah PPTK juga mengatakan pekerjaan tersebut sudah sesuai dengan kontrak kerja.

“pekerjaan tersebut sekarang dalam masa pemeliharaan, kalau ada kerusakan akan disuruh perbaiki, jaminan pemeliharaan kan masih tinggal 5%,”ucapnya.

Menurut Basrial, pekerjaan itu telah siap 100% dan telah di PHO. Dan pekerjaan sudah sesuai dengan kontrak kerja. Ironisnya, ketika ditanya penggunaan aspal curah berapa liter di setiap satu meter perseginya, Basrial terkesan enggan menjawab dan melemparkan jawaban kepada perencana.

Padahal, secara teknis pekerjaan Lapen, tentunya PPTK harus mengetahui berapa liter kebutuhan aspal yang akan digunakan pada pekerjaan sepanjang 750 meter dengan lebar 3,5 meter tersebut. Nah, bagaimana hasil konfirmasi lainnya dengan PPTK? Tunggu Edisi selanjutnya. BIN Ar/ovn03/ed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *