Proyek PJU Bypas Padang Sumbar Mubazir Terbengkali Sudah Dua Tahun , Terindikasi Adanya KKN

 

Terbengkalainya Proyek Penerangan Jalan Umum PJU tersebut siapa yang bertangung jawan proyek dengan nilai PR 6 M TA  2017 terindikasi adanya KKN

Padang. Ovumnews.com– Proyek Penerangan Jalan Umum (PJU) Bypas Padang harus segera ditindak lanjuti secara hukum oleh Tipikor Kejaksaan Tinggi Sumbar, karena proyek PJU ini mulai dari awal perencanaan sampai pelaksanaannya sudah tercium adanya praktek Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) yang teridikasi melanggar UU No 30 Tahun 2010 Tentang kelistrikan dan tidak sesui dengan PUIL.

Dalam aturan PUIL berbunyi, Kabel yang harus dipakai berupa NYYGBY dan juga kedalaman untuk yang tegangan rendah berkisar 25 cm dan untuk tegangan tinggi kedalamannya berkisar paling tidak 80cm. Sementara kedalaman kabel yang terpasang saat ini hanya berkisar 10-15 cm, bahkan untuk pengamanan kabel juga harus memakai pasir, bata dan pipa, dilapangan tidak ditemukan apa yang ada dalam aturan PUIL.

Diduga dalam pelaksanaan pekerjaannya sangat amburadul dan tidak sesuai dengan perencanaan/Bestek, dapat dilihat di TKP Bypas Padang, seperti penggunaan kabel listrik, pemasangan kabel listrik dan kedalaman penanaman kabel listrik.

Dalam perencanaan akan dilakukan atau dimulainya pelaksanaan pekerjaan mulanya pihak PT. Kreyoung kontraktor asing selaku pemborong pekerjaan jalan dan sekaligus PJU telah habis kontrak walaupun proyek jalan bypass belum selesai, Kreyoung juga belum membayar tagihan listrik ke PLN, dan tagihan pembayaran ini sudah dibayar Kreyoung namun siapa yang menerima pembayaran uang denda tersebut, hal ini pernah diungkapkan nara sumber yang pernah bekerja di PT. Kreyoung.

Keberangkatan PT. Kreyoung, maka Proyek PJU yang seharusnya masuk dalam pekerjaannya diserahkan tanggung jawabnya kepada Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) III Sumbar- Bengkulu dibawah naungan Kementerian PUPR, yang juga selaku pengelola anggaran untuk segera melanjutkan kembali proyek PJU Bypas Padang

Ironisnya, apakah pelaksanaan  proyek PJU tersebut pihak BPJN III telah melakukan pelelangan dan mengundang rekan- rekan kontraktor yang ahli dibidang kelistrikan, semua tidak jelas ada atau tidaknya, namun yang melaksanakan pekerjaan PJU tersebut adalah perusahaan milik Zanakir (PT. EGA), menurut sumber, lelang proyek ini hanya dilakukan lelang biasa (Sistim Undangan) lalu entah bagaimana caranya, bisa  dimenangkan oleh PT. EGA.

Sebenarnya bukan  PT. Ega yang mengerjakannya, tapi yang melaksanakan pekerjaan PJU tersebut salah seorang yang bernama ‘Roma’ hanya memakai atau meminjam nama perusahaan PT. EGA dan menurut sumber yang layak dipercaya mengatakan bahwa Roma mendapatkan pekerjaan proyek PJU ini dari pegawai PLN yang akrab dipanggil pak Jon, padahal Roma tidak ahli dalam pekerjaan dibidang kelistrikan, inilah yang mengakibatkan proyek PJU Bypas Padang jadi amburadul tidak sesuai bestek.

Kepada wartawan, pak Jon juga pernah mengatakan, bahwa pemadaman lampu jalan tersebut ada di empat titik dan pihak Kreyoung belum mambayar tagihan listriknya kepada PLN. Dan nara sumber dipihak Kreyoung juga pernah mengatakan bahwa perusahaan Kreyoung sudah membayar biaya  denda keterlambatan pelaksanaan projek ini, tapi uang denda ini tidak jelas siapa oknum yang menerimanya.

Ironisnya lagi, kenapa pihak BPJN III Sumbar- Bengkulu tidak melibatkan Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia (AKLI) Wilayah Sumatera Barat yang diakui sebagai kontraktor yang berpengalaman dibidang kelistrikan, baik pengawasan dan pemasangan, seharusnya AKLI dapat dilibatkan dalam proyek PJU Bypas tersebut sebagai tenaga ahli

Padahal pihak AKLI pernah memasukkan penawaran ke BPJN III Sumbar- Bengkulu, dengan pagu dana APBN tahun anggaran 2017 sebesar Rp.6 miliar, dan spek kerja yang ditawarkan untuk proyek PJU Bypa Padang, dimulai dari Bukit Putus Gaung Padang sampai Simpang Duku Kabupaten Padang Pariaman dengan jumlah tiang listrik sebanyak 713 tiang dengan ketinggian tiang 12 meter dan kedalaman pondasi 2 meter

Penawaran kerja AKLI baik melalui proses tender tidak pernah direspon oleh BPJN III diterima atau tidaknya, dan berapa bulan saja, sudah ada saja kontraktor yang mengerjakan proyek PJU Bypas tersebut, dan baru diketahui yang melaksanakan pekerjaan itu adalah PT. EGA, tentusaja BPJN III main tunjuk langsung kepada PT. EGA.

Dalam perjalanan pelaksanaan pekerjaannya ternyata banyak penyimpangan- penyimpangan bestek, baik penggunaan bahan dan pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan perencanaan, seperti pemakaian kabel listrik yang seharusnya memakai balutan waja yang akan menjamin kualitas kabel apabila kena benda keras atau pacul, maka  tidak akan rusak. Ternyata kabel listrik yang dipakai adalah kabel biasa berkualitas rendah

Kemudian pemasangan tiang hanya 9 meter dan kedalaman pondasi hanya 90 Cm saja, dan pemasangan kabel letaknya hanya diatas pondasi tiang dengan cara dipahat. Pemasangan ini sangat salah dan tidak sesuai perencanaan. Seharusnya secara teknis kabel induk letaknya didalam tiang beton dengan kedalaman 80 Cm, sebelum ditanam kabel listrik harus dipasang pipa ditengahnya.

Ternyata yang terlihat penanaman kabel listrik asal jadi karena terlampau dangkar dan pernah terlihat kalau kabel listrik menyembul diatas aspal jalan Bypas, tepatnya disekitar putaran jalan kenderaan roda dua maupun empat. Ini sangat membahayakan keselamatan masyarakat, apalagi kalau hari penghujan, karena air juga bisa penghantar aliran listrik.

Hal ini siapa yang bertanggung jawab, kalau proyek PJU Bypas ini dibongkar dan diperbaiki, maka dana siapa atau dana apa yang dipakai, apakah Zanakir (PT. EGA), pak Jon oknum Pegawai PLN yang memberikan pekerjaan kepada Roma atau tanggung jawab sepenuhnya ditanggung BPJN III Sumbar- Bengkulu. Atau sebaliknya tanggung jawab pihak pelaksana hukum Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kejaksaan atau Kepolisian. Karena proyek lampu jalan ini sudah berjalan lebih dari dua tahun terbengkalai. (Zainal.A.HS) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *