Proyek PT. Pratama Putra Sejahtera Diduga Tak Sesuai Spesifikasi Teknis

 

Proyek  PT. Pratama Putra Sejahtera (PT. PPS) pada pekerjaan beton ruas jalan Mangganti – Durian Gadang, bakal menuju ranah hukum. Ditenggarai Darwin, Direktur ACIA Sumbar, proyek senilai Rp4 miliyar tersebut, sarat penyimpangan. Baik, pekerjaan tak sesuai spesifikasi teknis, maupun penggunaan anggaran yang salah sasaran.

 Sijunjung Ovumnews.com–Proyek bermasalah di Pemerintah Kabupaten Sijunjung. Kali ini pekerjaan ditenggarai sarat penyimpangan, pekerjaan proyek di, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, kegiatan penunjang pelaksanaan rehabilitasi dan konstruksi pasca bencana tahun anggaran 2017.

Pasalnya,  pekerjaan rehabilitasi dan konstruksi jalan, ruas jalan Mangganti – Durian Gadang, kontraktor pelaksana PT. Pratama Putra Sejahtera (PT. PPS), konsultan pengawas  CV. Tirta Planning Engineering Consultan, nomor kontrak 25.92/APBD/AP-SJJ/2017, tanggal kontrak 28 November 2017, nilai kontrak Rp4.889.000.000, masa pemeliharaan 150 hari kalender, masih hitungan bulan jalan beton sudah dilakukan tambal sulam hampir sepanjang jalan tersebut.

Wajar saja proyek  tersebut, menuai sorotan Darwin, Direktur LSM ACIA Sumbar yang ikut melakukan investigasi langsung kelokasi dan telah menyurati Kepala BPBD Kabupaten Sijunjung, terkait pekerjaan jalan beton tersebut.  Kata laki laki pegiat korupsi dan telah banyak melaporkan dugaan korupsi pada pekerjaan proyek di Sumbar, baik menggunakan dana APBN maupun APBD, proyek yang dikerjakan BPBD Kabupaten Sijunjung terindikasi ada permainan, terutama anggaran digunakan berkedok bencana alam.

Darwin ditengah derita yang dialaminya dan sedang dirawat di Rumah Sakit, Ahmad Mukhtar Bukittinggi mengatakan, ia sudah menanyakan dan menyurati Kepala BPDBD Kabupaten Sijunjung terkait retak jalan beton sepanjang jalan. Alasan, Hardiwan, Kepala BPBD, retak sepanjang jalan tersebut, hanya retak rambut.

Namun, hasil investigasi dan kenyataan yang terjadi di lapangan, bukanlah retak rambut, tapi retak dari atas sampai kebawah.” Saya telusuri dari titik nol sampai ke ujung jalan, semuang dilakukan tambal sulam terhadap pekerjaan yang retak tersebut. Dan, terlihat bukanlah retak rambut, tapi retak struktur dan retaknya dari atas ke bawah,” kata Darwin.

Mengherankan Darwin, kok berani sekali Tim PHO melakukan PHO terhadap pekerjaan yang ditenggarai bermasalah tersebut. Seharusnya, Tim PHO melakukan pembongkaran atau merekomendasi untuk diperbaiki terlebih sebelum di PHO.” PHO pekerjaan ini perlu dipertanyakan dan ada indikasi permainan antara Tim PHO dan rekanan,” katanya yakin.

Membuat Darwin terpurangah, proyek dikerjakan perusahaan asal Solok milik Haji Ar tersebut, dalam plang proyek disebutkan proyek pasca bencana alam. Sementara, sepanjang jalan tak ada tanda tanda bencana alam dan tak akan mungkin terjadi bencana alam.

“Saya melihat sepanjang jalan pekerjaan proyek jalan beton tersebut, tak ada tanda tanda dan bekas bencana alam. Malah, terlihat juga tak ada tanda tanda akan terjadi bencana alam. Kok, bisa proyek ini dijadikan bencana alam,” katanya seraya menyebutkan seharusnya proyek jalan beton ini dikerjakan PUPR, bukan BPBD sebab tak ada bekas bencana alamnya.

Ia juga menyebutkan, disini terindikasi ada penyalahgunaan anggaran. Seharusnya dikerjakan PUPR, malah dikerjakan BPBD dan ia melihat ada penyimpangan dalam pekerjaan proyek ini. “Atas temuan itu, baik pekerjaan fisik maupun penyalahgunaan anggaran, LSM ACIA, telah menyiapkan surat pengaduan kepada aparat penegak hukum, terutama Kejaksaan Tinggi Sumbar. Tujuannya, untuk menguji kebenaran pekerjaan proyek tersebut, termasuk anggaran yang digunakan.” Biarlah aparat penegak hukum yang akan menguji kebenarannya dan tugas kita sebagai LSM yang konsen dengan pemberantasan korupsi, hanya membuat surat pengaduan,” kata Darwin mengakhiri.

Kepala BPBD Kabupaten Sijunjung, Hardiwan, saat dikonfirmasikan via Hpnya, Senin (12/10) mengatakan, retak jalan beton tersebut, hanya retak rambut.” Namun, ia tak memahami teknis pekerjaan, sebaiknya tanyakan langsung kepada PPTKnya,” kata Hardiwan yang juga mengatakan, saat ini ia sedang sibuk rapat.

Dilain pihak, PPTK, Syafar mengatakan, retak pekerjaan jalan beton itu, hanya retak retak rambut atau  permukaan.” Kalau penyebabnya keretakan tersebut,  penyebabnya kita juga belum tahu. Mungkin bagian labor yang lebih tahu. Yang jelas prosedur pelaksanaan pekerjaan susah kita lakukan, termasuk uji labor  dan hasilnya mutu beton tercapai,” kata Syafar via WA nya.
Terkait penyalahgunaan anggaran, sebab dilokasi pekerjaan tak ada bekas bencana alam dan tak mungkin terjadi bencana alam, Syafar mengatakan, kalau dilihat saat sekarang, memang tidak kelihatan unsur bencannya.

Namun,  kegiatan ini adalah realisasi dari proposal yang sudah berulang ulang diusulkan sejak gagal pertama tahun 2012. Hampir setiap tahun diusulkan, sampai akhirnya usulan 2015 yang diterima dan tahun 2016 diverifikasi oleh BNPB. Jadi unsur bencananya waktu pengusulan adalah banjir yang menyebabkan badan jalan hancur tidak berbentuk.” Dan, dan ada 2 unit polongan yang dikerjakan yang sebelumnya rusak, akibat banjir tersebut,” kata Syafar mengakhiri. Lalu, bagamana kebenarannya. tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *