Raskin Diselewengkan Oknum Kepala Desa

 

Lampung .OvumNews.com– – Bantuan beras untuk keluarga miskin sebanyak 9,3 ton di Bengkunat Belimbing, Kabupaten Lampung Barat, diduga diselewengkan oknum kepala desa. Raskin tersebut kemudian dikemas ulang dan dijual kembali di pasaran dengan harga yang lebih mahal.
Dugaan itu terungkap saat tujuh warga Desa Sukamarga, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, mendatangi Markas Kepolisian Daerah Lampung, Rabu (3/3). Mereka meminta polisi menuntaskan kasus dugaan penyalahgunaan raskin ini serta menangkap pelakunya.
“Barang bukti berupa 9,3 ton beras, kan, sudah diamankan dan pelakunya telah tertangkap basah. Semestinya, segeralah ditangkap dan kasus ini dituntaskan,” tegas Nazlul Haik (38), salah seorang warga Desa Sukamarga, di sela-sela kedatangannya di Markas Polda Lampung.
Suhadi (40), warga Desa Sukamarga lainnya, mengaku heran, meskipun sudah lebih dari satu bulan tertangkap basah, para pelaku masih bisa berkeliaran bebas. Padahal, tindakan oknum Kepala Desa Sukamarga sangat merugikan warga setempat, terutama keluarga miskin yang berhak atas jatah raskin. “Semestinya, jatah raskin per RT (rukun tetangga), kan, bisa mencapai 5,4 kuintal. Kenyataannya, yang terealisasi hanya 3 kuintal,” tuturnya.
Dari jatah 8,7 ton raskin yang diterima Desa Sukamarga, setidaknya 4 ton di antaranya yang diduga diselewengkan. Di desa tersebut harga raskin Rp 2.500 per kilogram.
Ditemui terpisah di sela-sela rapat koordinasi jajaran Polda Lampung di Markas Polda Lampung, Kepala Kepolisian Resor (Polres) Lampung Barat Ajun Komisaris Besar Sugeng Supriyanto menegaskan, pihaknya terus mengusut kasus dugaan penyalahgunaan raskin di Desa Sukamarga. Ia membantah pihaknya tidak terbuka atau lamban dalam penuntasan kasus ini. “Kami sudah melakukan gelar perkara atas kasus ini, barang buktinya juga sudah kami tahan,” tuturnya.
Terkait soal desakan penahanan pelaku, Sugeng Surpiyanto berpendapat, hal itu tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Alasannya, kepolisian setempat masih mendalami kasus itu.
Ketika ditanya soal kemungkinan penetapan tersangka terhadap Kepala Desa Sukamarga, ia mengatakan, “Kami sudah memeriksanya. Untuk Johan (pemilik truk), itu sudah mengarah ke sana (tersangka).”
Korupsi
Menurut dia, kasus penyalahgunaan raskin ini bisa mengarah ke indikasi korupsi. Sebab, ada unsur kerugian negara di dalamnya. “Dan, ini (beras) kan punya negara,” tuturnya. Selain itu, yang bersangkutan bisa pula dikenai pasal penipuan dan penggelapan.
Ia menceritakan, kasus dugaan penyalahgunaan raskin itu terungkap dari tertangkapnya Johan, pemilik kendaraan pengangkut beras raskin, di Mes Karya Canggih Mandiri Utama (KCMU), perusahaan sawit di Lampung Barat. Johan mengaku perbuatannya atas suruhan Kepala Desa Sukamarga Munizar.
Modusnya, sebagian jatah raskin yang dibungkus di dalam karung berukuran 25 kilogram ini lalu diambil dan dibungkus ulang ke dalam kemasan komersial berukuran 50 kilogram. Polisi mendapati 247 karung beras yang sudah dikemas ulang dan siap dijual kembali ke pasaran.
Beras komersial ini kemudian akan dijual kembali dengan harga lebih kurang Rp 5.000 per kilogram. Padahal, harga pengambilan raskin tersebut di daerah distribusi hanya Rp 1.600 per kilogram. Dalam penangkapan tersebut, sopir truk pengangkut beras diketahui melarikan diri. Truk itu bernomor polisi BE 9247 DP. (kompas***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *