Rosnini Safitri Kadiskes Sumbar ,Angka Kematian Akibat Rabies Cukup Tinggi

 

Padang,Ovumnews–Rosnini Safitri Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, menyebutkan, angka kematian akibat tertular penyakit rabies cukup tinggi. Bahkan, selama 5 tahun terakhir (2008 – 2012) terdapat 14.920 kasus gigitan hewan penular rabies dengan rata-rata 2500-3000 kasus gigitan (GHPR) per tahunnya. Sumbar pun secara nasional, berada di urutan kedua setelah Sulawesi Utara.

Penyebaran rabies tertinggi di Sumatera Barat terjadi di Kabupaten Solok, Agam, dan Dharmasraya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Safitri seusai acara peringatan Hari Rabies Dunia, kemarin.

Tinginya penularan penyakit rabies di Solok, Agam dan Dhamasraya, karena di daerah tersebut terdapat jual beli anjing yang didatangkan dari Pulau Jawa. “Anjing yang tidak laku dilepas begitu saja, sehingga menjadi anjing liar dan itulah yang menambah tingginya kemungkinan penyebaran rabies,” katanya.

Berdasarkan data yang ada di Dinas Kesehatan Sumbar, setiap tahunnya terdapat rata-rata 10-11 kasus lyssa yaitu kematian manusia akibat rabies. Contohnya, tahun 2012 terjadi 3.412 kasus gigitan oleh hewan penular rabies (HPR) dan ada 14 kasus kematian akibat rabies . Tahun 2013 (september 2013) terjadi 1940 kasus gigitan dengan 9 kasus kematian akibat rabies. Kabupaten/kota dengan jumlah kasus gigitan terbanyak (September 2013) : Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten 50 Kota, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Solok.

Berbicara penyakit rabies, kata Rosnini, rabies sudah dikenal sejak dulu. Penyakit ini sudah ada sejak zaman kekuasaan Raja Hammurabi (2300 SM). Kemudian, dalam perjalanan waktu, rabies tidak hanya menyerang anjing dan manusia, tetapi juga menyerang hewan lain termasuk hewan liar. “Penyebab rabies adalah virus famili Rhabdoviridae dan menyerang sel-sel syaraf. Sumber penular adalah hampir semua hewan berdarah panas. Penular utama adalah anjing (98%), selebihnya kucing dan kera,” tambahnya.

Sedangkan tingginya jumlah masyarakat terjangkit rabies, berkaitan erat dengan hobi masyarakat memelihara anjing untuk berburu. Hal itu diperparah dengan adanya kepercayaan yang beredar di kalangan masyarakat, bahwa anjing yang divaksin tidak lagi memiliki kecepatan berlari. Mitos itupun membuat masyarakat enggan menghantarkan anjing peliharaannya untuk divaksin.

Jadi, untuk menekan angka rabies, kami dari Dinas Kesehatan Sumbar menghimbau masyarakat agar memberikan vaksin kepada hewan peliharaannya, seperti kucing, anjing, maupun monyet. Kemudian, dinas kesehatan di kabupaten/kota diminta memprioritaskan pengadaan vaksin rabies, mengingat ketersediaan vaksin rabies di provinsi bukan stock utama melainkan bersifat cadangan,” kata Rosnini lagi.

Kunci dari pengendalian rabies di sektor Kesehatan dan Kesehatah Hewan adalah kerjasama dan respon terhadap kasus gigitan dengan cepat. Dinas Peternakan harus memvaksinasi minimal 70% total populasi anjing setiap tahunnya, termasuk anjing yang berkeliaran dan anak anjing. Dinas Kesehatan menangani korban gigitan dan memberikan vaksinasi anti-rabies seperti yang dipersyaratkan; keputusan untuk melakukan vaksinasi bagi korban gigitan akan diberikan oleh Dinas Peternakan yang akan mendiagnosa hewan suspek rabies dengan bantuan laboratorium kesehatan hewan setempat, dan kemudian melakukan vaksinasi anjing darurat jika ditemukan kasus positif.

Rosnini Safitri juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada apabila digigit anjing. Seluruh gigitan anjing harus dicuci dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit dan kemudian korban harus segera dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan pengobatan.

Cara penularan rabies dapat melalui Gigitan hewan penderita rabies. 70 persen anjing yang tertular rabies mengandung virus di dalam salivanya,Meskipun jarang, infeksi juga dapat terjadi lewat kulit yang lecet atau konjunctiva yang kontak dengan salivanya. “Situasi rabies di Sumbar, masih menjadi masalah kesehatan dan endemis hampir di seluruh kab/kota kecuali Mentawai, karena hampir setiap tahun terjadi kejadian luar biasa (KLB) atau peningkatan kasus dan kematian manusia akibat rabies. Kasus rabies Pertama kali ditemukan kasus di Sumbar tahun 1953,” ujarnya. Soni Tanjung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *