Terlambat Siap Proyek Batang Selo Tanah Datar Batusangkar Milik Dinas PSDA Sumbar. Ala PT.Dimitri PR

 

Batusangkar Ovumnews.Com—Akibat tidak siap proyek milik dinas PSDA tersebut, diduga akibat kedekatan khusus dengan PT. Dimitri Putra Ronata, sehingga membuat Dinas PSDA Sumbar memberikan perlakuan istimewa kepada perusahaan non lokal ini dalam melaksanakan pekerjaan. Buktinya, sudahlah pekerjaannya terlambat atau masa kontrak habis, tapi oleh dinas ini masih juga diberi kesempatan untuk melanjutkan pekerjaan dengan mencari alasan yang tidak masuk akal. Hal ini terungkap dibalik keterlambatan pekerjaan PT. Dimitri Putra Ronata pada proyek rehabilitasi irigasi yang berlokasi di Batang Selo Kabupaten Tanah Datar.
Tidak siapnya pekerjaan ini sebenarnya tidaklah menjadi alasan untuk dilakukan addendum. Kecuali faktor alam atau cuaca yang menjadi halangan selama ini dalam melaksanakan pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan sungai atau irigasi. Namun disini terlihat, alasan addendum yang diberikan Dinas PSDA Sumbar tidaklah masuk akal, yakni faktor pembagian hidup dan mati air saluran irigasi.
Faktor hidup dan mati air yang merupakan acuan untuk dilakukan addendum ini terindikasi alasan yang dicari-cari untuk menghindari putus kontrak. Sebab, alasan ini sebenarnya tidak mempengaruh terhadap kinerja PT. Dimitri Putra Ronata untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak. Karena pembagian air ini sebelumnya sudah ada dalam perencanaan yang dimiliki Dinas PSDA Sumbar sebelum proyek dikerjakan. Lantas, kenapa hal itu dijadikan alasan untuk addendum waktu?
Misteri yang menyelimuti proyek yang dianggarkan APBD Sumbar ala PT. Dimitri Putra Ronata ini. Bagaimana tidak, meski sudah disorot masyarakat dan berbagai media massa terbitan daerah berkali-kali, namun masih juga perusahaan yang direktur cabangnya dijabat Erwin tersebut mendapat perlakuan khusus dari Dinas PSDA Sumbar.
Permintaan hidup dan mati air saluran irigasi ini tercantum dalam selembar surat yang ditandatangani beberapa walinagari dan diketahui camat setempat yang berlaku mulai September 2014. Dalam surat tersebut dibunyikan jadwal permintaan hidup dan mati air saluran, diantaranya pada Jum’at dan Minggu air disalurkan (hidup) terhitung mulai pagi hingga sore harinya. Sedangkan hari-hari berikutnya, saluran irigasi ini tidak dialiri (mati). Artinya, dalam seminggu masyarakat petani setempat hanya membutuhkan air saluran 2 (dua) hari untuk mengairi sawahnya.
Seharusnya PT. Dimitri Putra Ronata bisa memacu pekerjaan disaat air mati. Faktanya disaat air mati, sudahlah pekerjaan dilakukan dengan lamban namun juga terindikasi dikerjakan asal jadi dan melabrak bestek. Sampai berita ini diturunkan, bobot pekerjaan baru mencapai 75 persen dari sisa waktu yang tersedia di addendum. Dengan sisa waktu ini banyak pihak yang pesimis pekerjaan siap 100 persen, karena hanya tinggal 15 hari lagi tutup tahun anggaran 2014.
dengan sisa waktu yang sangat pendek ini bagaimana kontraktor bisa menyelesaikan pekerjaan, Kalaupun dipaksakan selesai 100 persen, mungkin pekerjaannya akan dilaksanakan dengan cara tergesa-gesa dengan mengabaikan mutu proyek itu sendiri,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat yang selalu memantau pekerjaan tersebut.
Proyek yang berada dikampungnya ini seharusnya sudah memasuki masa pemeliharaan dan sudah diserahterimakan. Dari fakta yang terjadi, pekerjaan malah dilaksanakan dengan molor. Kalaupun dipaksa siap 100 persen, ia yakin proyek ini tak akan bertahan lama, karena dikerjakan tergesa-gesa, sehingga berdampak buruk terhadap mutu pekerjaan,” terang tokoh masyarakat ini mengulangi pernyataannya.
Pesimisnya masyarakat setempat terhadap pelaksanaan Proyek Rehabilitasi Batang Selo senilai Rp 2,3 Miliar ini, tidak serta merta membuat Dinas PSDA Sumbar menjadi risau. Bahkan dinas ini terkesan melindungi dan merestui PT. Dimitri Putra Ronata bekerja lamban dan terindikasi melabrak bestek dalam melaksanakan proyek yang dibiayai dana masyarakat Sumbar ini. Melihat kondisi seperti itu sang kontraktor terkesan basilanteh angan dalam bekerja. Terbukti, saat dikonfirmasikan kepada Erwin, Direktur PT. Dimitri Putra Ronata cabang Padang via handphone 082171362xxx beberapa kali tak pernah dijawab. Bahkan di SMS-pun juga tidak dibalas. Ada apa dengan Dinas PSDA Sumbar yang terkesan menganak emaskan PT. Dimitri Putra Ronata?
Namun sementara itu, Nal, PPTK Proyek Rehabilitasi Irigasi Batang Selo yang dikonfirmasi dilokasi proyek mengungkapkan, hingga pertengahan Desember 2014 ini bobot pekerjaan sudah mencapai 75 persen. Seharusnya awal Desember lalu sesuai jadwal dikontrak pekerjaan sudah selesai. Namun, karena faktor permintaan hidup dan mati air kesaluran proyek ini menyebabkan pekerjaan mengalami keterlambatan. Faktor tersebutlah yang menjadi alasannya untuk dilakukan addendum waktu, kilahnya tanpa menjelaskan langkah tegas jika proyek ini tidak selesai hingga waktu yang ditentukan dalam addendum.

Komisi IV Segera Turun Kelapangan
Timbulnya tanda Tanya terhadap pelaksanaan Proyek Batang Selo di Kabupaten Tanah Datar, juga menuai tanggapan Komisi IV DPRD Sumbar. Menurut Hidayat, SS yang juga Ketua Fraksi Partai Gerinda, Komisi IV siap turun kelapangan melihat langsung pekerjaan yang terlambat dan terkesan melabrak bestek itu.
Komisi IV DPRD Sumbar Hidayat juga mengatakan, selama ini Komisi IV telah melihat beberapa kenjanggalan pekerjaan proyek, seperti yang terjadi pada pekerjaan Batang Timbalun yang melabrak bestek dan sekarang dalam kondisi rusak.” Dalam waktu dekat kita juga akan turun melihat pekerjaan rehabilitasi Batang Selo yang disebut sebut banyaknya terjadi penyimpangan.
Terjadinya carut marut pada pelaksanaan pekerjaan tersebut mengindikasikan adanya ketidakharmonisan ditubuh Dinas PSDA Sumbar itu sendiri. Ada kesan yang tidak baik terlihat antara kepala dinas dengan kepala bidangnya yang merangkap sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Sehingga setiap pekerjaan yang dikelola dinas ini hasilnya banyak yang melabrak bestek.
Menurut sumber di Dinas PSDA Sumbar, gonjang-ganjing ketidakharmonisan itu sangat berimbas pada pelaksanaan pekerjaan. Karena, Ali Musri yang saat ini menjabat Kepala Dinas PSDA Sumbar, sebenarnya sudah memasuki masa pensiun. Karena kedekatannya dengan Gubernur Sumbar, sehingga jabatan yang dipegang Ali Musri ini diperpanjang melalui SK Gubernur Sumbar.
Prosesi peralihan tampuk pimpinan yang akan terjadi di dinas ini oleh beberapa rekanan/kontraktor momennya dimanfaatkan dengan cara melaksanakan pekerjaan yang terindikasi asal jadi dan terkesan lamban. Hal ini terbukti pada pekerjaan yang dilaksanakan PT. Dimitri Putra Ronata untuk Proyek Rehabilitasi Irigasi milik Dinas PSDA Sumbar senilai Rp 2,3 Miliar yang berlokasi di Batang Selo Kabupaten Tanah Datar.
Menurut sumber di Dinas PSDA Sumbar di Jalan Khatib Suleiman Padang, juga mengungkapkan meski pekerjaan ini akan dipaksakan selesai 100 persen oleh kontraktornya, tapi ia yakin pekerjaan akan dilaksanakan dengan cara melabrak bestek sebagaimana yang tertuang pada kontraknya. Akibatnya pekerjaan jadi mubazir dan diperkirakan tidak akan bertahan lama, ungkap sumber di dinas ini yang enggan namanya disebutkan dengan nada pesimis.
Keraguan salah seorang sumber di dinas tersebut juga terbukti dari penelusuran yang dilakukan wartawan ke Batang Selo, tepatnya di kenagarian Kubang Landai Kabupaten Tanah Datar, Rabu (19/11) lalu. Salah seorang pekerja yang juga masyarakat setempat mengaku dirinya hanya sebagai buruh harian untuk mengangkut material kelokasi proyek dari tumpukan sekitar 50 meter ke lokasi proyek.
Tak banyak yang bisa diungkap dari buruh harian ini. Tapi yang jelas, pekerjaan di lokasi itu banyak terjadi kejanggalan. Hal ini terbukti pada beberapa titik pekerjaan yang terlihat mengkhawatirkan. Seperti pemasangan dinding coran beton yang memakai besi bekas dan berkarat. Selain jarak begol yang tak teratur dan terlihat jarang, sehingga mengakibatkan kekuatan dinding beton ini rapuh dan tidak akan kuat menahan beban air disaat musim hujan.
Ironisnya lagi, sebelum dinding coran beton dipasang, besi untuk coran beton sebagai tulang betonnya disinyalir tidak akan berfungsi. Sebab, tulang beton ini hanya diletakkan pada lantai tanah yang digenangi air yang juga mengakibatkan rapuhnya dinding beton (lihat foto-red).
Pada bagian lainnya, pemasangan batu terlihat berserakan karena PT. Dimitri Putra Ronata sebelum pemasangan batu dimulai terlebih dahulu tidak melakukan pembersihan lahan. Sehingga pasangan batunya dikerjakan asal jadi dan rentan ambruk (lihat foto-red).
Permainan lain yang dilakukan PT. Dimintri Putra Ronata, terlihat pada adukan semen yang tak sesuai takaran dan pasir yang digunakan bercampur tanah. Diperkirakan pasangan batu itu, kurang perekat dan mudah terbongkar, disebabkan adukan semen untuk batu itu asal asalan.
Kurang adukan semen untuk pekerjaan itu, sangat jelas dilihat mata. Sebab, adukan semen secara manual itu, berwarna merah. Begitu juga adukan semen yang sudah terpasang diantara pasangan batu, juga terlihat merah. Tak ada ukuran yang jelas adukan semen ini.
Salah seorang tokoh masyarakat yang dimintakan tanggapannya tak menampik memang ada pasir yang bercampur tanah, disebabkan lokasi disekitar pekerjaan mengandung tanah. Bahkan, saat penggalian untuk koporan tanah disekitar tersebut bercampur dengan pasir yang ada. Saat adukan semen diatas tanah, sangat terlihat pasir, semen dan tanah bercampur, ungkapnya.
Ia pun menilai pekerjaan tersebut bakal mubazir karena dikerjakan asal-asalan. Sebab, secara teknis banyak perkejaan yang tak sesuai bestek atau melabrak bestek sebagaimana yang disepakati dalam kontrak. Seharusnya pengawas dan dinas terkait tidak membiarkan kontraktor pelaksana dalam hal ini PT. Dimitri Putra Ronata melaksanakan pekerjaan seperti itu. Padahal medan pekerjaannya tidak sulit dan dekat dari jalan. Tentu saja, efek dari pekerjaan ini selain merugikan keuangan negara juga merugikan masyarakat karena terancam tak bakal bertahan lama atau tidak berfungsi. BIN AMS .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *